Minggu, 31 Januari 2016

Senja

PART VI .
Dulu semua berwarna putih , lalu  berubah abu_abu kemudian menjadi hitam dan sekarang hitam pekat selanjutnya . Tiada lagi yang aku rasa selain bayangan ayah dan luka itu  perlahan membunuh semua . Aku berubah menjadi seperti dulu , gadis  acuh tak acuh , tidak peduli , kaku dan tanpa senyuman . . . . Aku pun melupakan bagaimana rasanya menjadi gadis ceria yang diajarkan oleh kumbang dulu . Ayah , ayah menyadari kesalahannya . . . Ayah berusaha meminta maaf kepadaku  aku tidak pernah peduli , tidak ada kehangatan , tidak ada perbincangan tentang senja dan tidak ada tatapan teduh dari ayah lagi semua hilang menjadi bayangan yang menetap disetiap peraduan hidupku . . . Dia tidak ingin pergi , hingga aku ingin sekali memberontak , marah namun hanya tangisan yang mampu menenangkanku . Kumbang ! . Dia beberapa kali mengajakku untuk melihat senja , aku menolaknya hingga mendorongnya jatuh . Ada rasa simpati saat dia menatapku . . . Namun dia tidak bisa apa_apa , hanya menatap semua gerakanku dari kejahuan . . . Aku sadar dia melakukan hal itu , lagi_lagi aku juga tidak peduli . Sekarang dia tahu keadaanku . . . Benci , kecewa dan melupakan semua tentang senja itu yang aku lakukan sekarang . Aku mengurungkan diriku dikamar , aku keluar hanya untuk sekolah dan makan itu pun jarang aku lakukan . Nilai sekolahku merah , turun merendah hingga yang paling rendah . . . . Ayah beberapa kali dipanggil ke sekolahan oleh wali kelasku untuk menyelesaikan masalah tentang nilaiku yang akhir_akhir ini buruk , beberapa kali juga aku dimarahi wali kelas karena sering meninggalkan kelas tanpa izin , dihukum , hingga diancam akan dikeluarkan tapi ayah memohon dan menceritakan semua apa yang terjadi denganku dan pihak sekolah pun merasa perihatin dan berusaha membantu masalah ini , dengan beberapa kali memanggilku ke ruang bimbingan konseling . Memberikanku beberapa penerangan , penyuluan , nasihat . . .Tapi aku tidak ada perubahan tetap seperti ini karena bagiku aku sudah terlanjur jatuh kepayahan . Badanku kini kurus , layu , lemas bagai orang terkena penyakit parah . . . . Ayah tidak sanggup melihatku dia memilih pergi, beberapa kali aku mempergokinya meneteskan air mata satu_persatu ke pipih . . . Ketika ayah sadar, aku melihatnya dia langsung mengusap . . . Aku hanya diam menatapnya lalu pergi dari hadapan ayah . Aku masih tetap diam , melamun dan menahannya semua . . . Kumbang ! . Beberapa kali mencoba mendekatiku tapi teman_temannya selalu mecegah melarangnya , mungkin yang ada dipikiran mereka aku ini sudah gila . . . Mungkin memang aku rasa aku sudah gila . Dibelakangku mereka semua berbisik_bisik membicarakanku . . . Aku tau dan aku mendengarkannya , ketika mereka melakukan hal itu aku langsung menatap ke arah mereka . . . Mereka langsung diam bahkan mereka pergi berlari , gila dan takut mungkin itu yang ada dipikiran mereka . Ayah kewalahan dengan kelakuanku yang semakin menjadi . . . Dia pun meminta bantuan kumbang, dia bersedia . . . Beberapa kali ayah mengundang kumbang makan malam dirumah . . . Namun aku selalu merusak acaranya , dengan membantingkan semua makanan yang tersedia dimeja . Setiap pagi kumbang seperti biasa dia mengajakku untuk berangkat sekolah bareng , namun aku memilih menaiki sepedaku sendiri , mengayunkannya cepat , dia mengejar lalu beriringan denganku sekarang . . . Tapi aku mendorongnya jatuh dijalanan , aku tidak peduli . . . Aku malah pergi meninggalkannya . Badannya penuh luka ketika dia datang terlambat , semua orang bertanya tapi dia hanya menjawab " Tidak apa_apa , aku hanya jatuh dijalan karena aku saja yang kurang fokus " . . . . Dia menutupi semuanya . . . Hal itu juga aku tidak peduli . Beberapa malam ayah mengajak kumbang untuk tidur dirumah . Mereka berdua berusaha mencari perhatiaanku . . . Ayah mengajaknya melukis senja , seperti dulu yang aku lakukan dengan ayah untuk mengusir bosan . Sekarang mereka melakukannya dan aku juga tidak peduli . . . Aku lebih memilih untuk mengurungkan diri dikamar . Aku sadar dalam hal ini , aku sudah semakin dewasa dan ayah semakin sibuk dengan pekerjaannya . Tidak mungkin ayah memperlakukanku seperti senja kecilnya dulu dan aku harus mengerti itu . . . Tapi jika ayah ingin tahu ini menyakitkan untukku . . . . Aku akui kehidupan aku dan ayah sekarang memang semakin berubah tidak seperti dulu . . .  Tidak seperti dulu , sekarang ayah mampu membelikanku semua yang aku inginkan , ini mimpi ayah dulu tapi bukan ini yang aku mau . . . Aku ingin ayah tetsenyum seperti dulu lagi .
Hari ini , hari yang melelahkan bagiku . . . Kumbang beberapa kali memberikanku secarik kertas dari belakang yang tertulis " Aku tunggu kamu didermaga bersama suasana senja . . Aku tunggu kamu , dan kamu harus datang ! " . Beberapa kali dia melakukannya . . . Aku pun  kesal dibuatnya . . . Hingga aku menghentaknya dan memilih meninggalkan kelas . Guru yang ada dikelas mencegahku dan mencoba menenangkanku . . . Namun aku tetap berlari pergi tidak peduli .
Aku mengambil tas sekolahku . . . Tidak ada orang dikelas ini , kecuali kumbang yang masih tetap memandang dan menungguku . Aku diam dan dia pun diam . . . . Sunyi dan senyap suasananya .
" Senja tunggu ! " . Aku berhenti melangkah . . . Dia masih tetap diposisinya duduk ditempat duduknya .
" Aku tunggu kamu disuasana senja " . Dia mengakhirinya . . . Lalu pergi pulang meninggalkanku .
Aku melihat langkah kakinya , melangkah pergi . . . Kemudian menghilang tidak ada jejaknya yang setapak hanya kata itu yang aku ingat . . . . Menungguku disuasana senja dan berlalu begitu saja .
Aku berjalan perlahan , sudah sepi tiada tertawa orang_orang . . . Hanya ada kendaraan para guru yang terpakir ditempatnya dengan tenang .
Aku menaiki sepedaku lalu mengayunkannya perlahan . . . . Suara gema petir mulai terdengar ditelingaku . Tanda_tanda hujan akan menyapaku dan menemaniku . . . . Aku tidak suka hujan , hanya saja aku suka sentuhannya karena saat aku menangis dibawah hujan , hujan akan mengahapusnya hilang . Satu_persatu air berjatuhan dari atas . . . Aku membiarkan diriku basah dijalanan luas , dingin tidak aku rasa . . . Saat ini aku seperti orang bodoh tidak punya akal , bermain sepeda dijalanan yang diguyur hujan . . . Aku mengayunkannya pelan . Aku menikmatinya . . . Sekarang aku tidak ingin menangis hanya ingin berteman dengan ribuan air hujan . Angin mengembuskannya kencang hingga terasa sakit menetes disetiap kulit diatas tulang putihku . Aku menikmatinya . . . . Hujan semakin deras , dan sekarang aku ingin melupakan semua walaupun sejenak . Namun ada yang ganjal aku rasa . . Ada yang kurang pas dan mencoba keluar mengingatkanku . Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranku . . . Namun aku melupakan sesuatu . . . Iyah aku mengingatnya sekarang , aku melupakannya . . . Kumbang yang akan menungguku disuasana senja . Aku mengayunkan sepedaku cepat . . . . Aku memang benci senja tapi dia . . . Sedang apa dia sekarang ?. Apakah dia masih tetap menungguku ? . Ah . . . Aku tidak karuan memikirkannya , hari sudah gelap , senja mungkin sudah hilang . . . Namun dia ! . Ah . . . Aku semakin cepat , hujan masih tetap deras menuruni ruang kosong dibawahnya . Aku meletakan sepedaku ditempat biasa , masih seperti dulu . . . Senja memang sudah hilang  ! . Hari sudah gelap  hujan dan malam datang menghapus senyuman senja . Aku melihat kumbang dari belakang dia bertahan disana , diujung dermaga mamandang langit malam yang tertutup hujan . Aku mendekatinya . . . . Dia masih menungguku , aku ucapkan dalam hati . Kepalanya tertunduk . . . Mungkin dia menyesali apa dia perbuat sekarang . Aku berdiri dibelakangnya tepat . . . Dia tidak sadar kedatanganku .
" Sampai kapan kamu akan menungguku ? " . Dia menengok kebelakang menatapku dari bawah . . . . Namun aku tidak menatapnya . Mataku jauh memandang semua didepanku .
" Kamu masih suka senja kan ? " . Dia berdiri dan sekarang dia didepanku , menatapku , menungguku menjawab pertannyaan bodoh itu lagi .
" Mau sampai kapan kamu disini ? " . Sekarang aku menatapnya .
" Sampai kamu datang " . Dia masih tetap menatapku . . . Bahkan dia lebih dekap .
" Kamu itu bodoh , jika aku tidak datang sekarang , apakah kamu masih tetap menungguku disini ? " .
Aku meneteskan air mataku . . . Hujan masih mengguyur dan tubuh kami sama_sama basah kuyup . Rambutku dan rambutnya sudah berantakan basah tidak karuan .
" Kamu datang sekarang " . Dia menelan ludah . . . Seperti ada yang dia tahan didalam .
" Kamu masih suka senja kan ? " . Dia bertanya hal bodoh itu lagi .
" Kenapa kamu lakukan ini kepadaku ?  " . Aku meteskan air mataku lagi dan hujan menghapusnya bertahap .
" Karena aku sayang kamu " . Dia memelukku segera , kencang dan hangat .
" Aku benci senja " . Aku melepaskan pelukannya paksa . . . Dan aku lepas . Aku berlari kencang , jauh darinya dan menghilang dari hadapannya . Dia membiarkan aku pergi . . . Tidak ada kata_kata yang dia ucapkan .
" Aku sayang kamu senja . . . Aku sayang " . Teriaknya kencang , aku tidak tahu arti yang sebenarnya .  Yang aku tahu aku mendengar itu . Aku tetap tidak peduli . . .
Aku menaiki sepedaku dan menghilang dari tatapan tempat ini .
Hari pun berlalu hingga aku lupa berapa lama aku tidak melihat senyum senja , aku juga lupa apa saja warna yang diberikan Tuhan untuk senja . Kumbang ! . Tidak ada teriakan lagi darinya . . . Tidak ada senyumnya yang klasik dan tidak ada panggilan darinya lagi . Aku menjauhinya dia mengerti . . . Tidak ada sapaan hangat ketika bertemu , hanya saling melihat dan mata mata kita bertemu tapi mulut hanya diam membeku . . . Sekarang dia punya kesibukan baru bersama teman_temannya , ketawa bareng bersama mereka setiap hari . . Hingga dia terlihat begitu bahagia disana  . . . Dan aku , aku tidak tahu apa yang aku rasakan tapi aku merindukan hari yang dulu .
Aku tidak tahu , tidak ada jalan yang aku pilih . . . Aku hanya berjalan pada yang seharusnya dan  Mungkin seperti kemarin yang lalu , hari ini ataupun kepada hari yang tidak akan pernah aku tanyakan lagi . . . Aku masih berperan utama dalam kisah yang masih ku sembunyikan , tapi aku sekarang tidak seperti senja yang ku lihat kemarin yang selalu tenang dan damai sedangkan aku yang kini . . . Penuh amarah yang setiap saat ingin aku tuangkan , tidak peduli itu dimana dan kepada siapa . Semua sudah berubah , akan tetap seperti ini . . . Aku yang acuh , tidak peduli bahkan lebih parah . Ayah . . . Ada belas kasihan yang dia tampilkan disana , aku tidak tahu apa yang ada dipikiran ayah yang jelas ayah ingin aku tersenyum seperti dulu . Hingga suatu malam , aku yang habis ke belakang berhenti didepan pintu ruang kerja ayah yang membuka sedikit disana . . . Ayah sedang berbicara diponsel dengan atasan ayah .
" Selamat malam . . . Ada apa pak ? Malam_malam begini menghubungi saya . . . Ada yang bisa saya bantu ? " . Suara dari seberang ponsel .
" Malam pak . . . Maaf pak saya mengganggu istirahat bapak . . . Ehhh . . . Begini pak saya ada keperluan sedikit dan saya harap bapak bisa mengerti " . Bicara ayah ragu .
" Oh tidak apa_apa pak , emang ada keperluan apa pak ? " . Suara itu sedikit penasaran .
" Begini pak . . . Saya ingin turun dari jabatan saya sekarang " . Ayah mencoba tegar tapi ada rasa takut ssdikit disana .
" Apa ? Tidak_tidak . . Pekerjaan bapak bagus , bapak pantas saya tempatkan disana " . Suara itu sedikit menghentak , terkejut dan bingung aku rasa disana .
" Tapi pak . . . " . Ayah belum selesai berbicara tapi sudah dipotong .
" Tidak pak , kenapa tiba_tiba begini ? Pembayarannya kurang banyak saya akan tambahkan pak " .
" Maaf pak bukan masalah itu . . . Tapi mohon saya harap bapak bisa mengerti aku tidak mau anak saya menjadi begini " . Ayah menggigit bibir atasnya , matanya mulai berkaca_kaca .
" Emang anak bapak kenapa ? " . Suara itu menjadi lentur turun perlahan .
" Maaf pak saya tidak bisa menjelaskan . . . Tapi saya mohon ini menyangkut anak saya , saya ingin dikembalikan ditempat saya seperti dulu " . Ayah mencoba kuat dan menahan air matanya disana .
" Tapi pak . . . " . Belum selesai berbicara ayah langsung memotong .
" Pak saya mohon . . . Saya sayang sama anak saya " . Suara ayah sedikit tegas . . . Ada keheningan , mungkin disana sedang berpikir tentang keputusan ayah .
" Okeh akan saya pikirkan lagi " . Suara itu pelan . . . Dan sedikit kecewa .
" Terimakasih pak . . . Sekali lagi maaf jika saya sudah mengganggu istirahat bapak " .
" Tidak apa_apa pak , tapi kalau bapak ingin mengurungkan niat bapak besok hubungi saya " . Suara itu masih ingin menahan bapak dan berharap .
" Iyah pak . . . Terimakasih selamat malam " . Bapak sedikit tersenyum . . . Lega mungkin rasanya .
" Malam " Suara itu mengakhiri pembicaraan sebelum menutup ponselnya .
Tut . . . Tut . . . Tut bunyi ponsel terakhir yang dipegang ayah . . . Ayah menghela nafas sedikit lega tapi dimatanya ada sedikit penyesalan . Ayah meletakan ponselnya dimeja kerjanya . . . Tangan kanannya memegang kepalanya . . . Seperti banyak pikiran disetiap sudutnya . Aku tahu ayah melakukan ini . . . Iyah ! . Hanya untuk aku berubah menjadi seperti dulu .
Aku membuka pintu perlahan dan masuk . . . Berdiri didepan ayah . Ayah melihatku . . . Ayah tertahan dikursinya , hanya memandangiku  tanpa arti . . . Terkejut mungkin atas kemunculanku . Aku meneteskan air mataku jatuh perlahan . . . Tatapan ayah menjadi teduh . . . Ayah mengangguk dan mengerti .
" Kenapa ayah melakukan ini ? " . Ayah meneteskan air matanya . . . Kita sama_sama menangis .
"  Ini mimpi ayah . . Ini yang ayah inginkan sejak dulu , ayah tidak susah khawatirkan aku , aku baik_baik saja . . . Aku sayang ayah " . Ayah berdiri . . . Dan melangkah memelukku .
" Maafkan ayah senja . . . Maafkan ayah ! " . Ayah memelukku erat .
Semua bayangan itu berubah menghilang , entah kemana ! . Yang jelas aku merindukan hal ini .
Ayah mengecup keningku , mengusap air mataku . . . Dan tersenyum seperti dulu . Aku juga ikut tersenyum bahkan lebih dari sebuah senyuman bahagia .
" Ayah sayang kamu " . Ayah tersenyum lagi .
" Aku juga sayang ayah " . Aku juga tersenyum lagi mengikuti ayah .
" Masih suka senja kan ? Tidak membencinya ? " . Ayah bertanya hal bodoh itu lagi , aku mengangguk dan menahan senyumku dari balik bibirku yang ku rapatkan .
" Besok maukan temeni ayah melihat senja ? " . Aku terdiam , berpikir apa yang akan aku jawab .
" Mau " . Aku jawab dengan pasti . Kita tertawa lagi , tersenyum lagi dan suasanya menjadi hangat kembali seperti dulu bahkan lebih hangat . Besok aku akan melihat senja bersama ayah . . . Mengingat setiap detik yang dititihkan Tuhan untukku bahagia , seperti senja . . . Yang meninggalkan biru lalu menuangkan warna merah cerah disetiap sudut senyumanku karena dihidup ini ada beberapa hal yang tidak aku mengerti . . . Seperti senyuman senja , aku tidak berlalu dalam takdir . . . Tetapi jika aku berjalan pada yang tidak seharusnya , tidak mungkin sekarang aku masih merindukan senyuman senja . . . Aku akan datang lagi melihat senyuman senja .

Minggu, 10 Januari 2016

Senja

PART V .
Senja . . . Jika aku melihatnya lagi aku ingin mengatakan banyak hal kepadanya . Pertama tentang ayah , dia lah laki_laki yang memperkenalkanku kepada senja .
Kedua tentang kebahagian yang selalu aku dapatkan disini . Ketiga tentang kumbang yang mengajarkanku tentang arti sebuah rasa yang lebih dari indah dan keempat tentang ibu , aku membencinya . Aku terbangun dari tidurku , aku melihat sekeliling . . . Bukan dirumah ! Ada perban diatas punggung tanganku ,  jarum infus menusuk disana tidak terasa memang tapi gerakanku menjadi terbatas . Aku baru sadar apa yang telah terjadi kepadaku . . . Aku tergeletak lemas dikamarku dan ayah membawaku ke rumah sakit ini . Cukup luas ruangannya . . . Ada bunga mainan berwarna biru cerah  yang tertata rapi diatas lemari kecil dekat keranjangku sebelah kiri . Ruangan yang hanya ditempati satu pasien membuatku  tidak merasa kesempitan . . . Ada kamar mandi disebelah barat , cukup jauh jaraknya dari keranjangku mungkin 5 langkah dari sini . Tidak ada kursi khusus untuk pengunjung . . . . Hanya ada satu kursi disebelah kanan keranjangku . Aku melihat ayah yang sedang duduk disebelahku . . . Aku masih dalam posisi tiduran dikeranjang . Ayah menatapku , matanya berkaca_kaca namun terlihat kuat diwajahnya .
" Sayang " . Kedua tangannya memegang tangan kananku .
" Sayang . . . Ayah minta maaf " . Ayah pelan mengatakannya , dia masih memegang tangan kananku . . . Namun sekarang aku melepaskannya .
" Sayang " . Ayah berkata pelan lagi . . . . Tapi aku tetap diam , wajahku aku hindarkan dari tatapan ayah .
Ayah terdiam , bibirnya terkatup rapat takut salah dihadapanku .
" Senja " . Aku tahu suara itu kumbang ! Aku tetap diam bahkan tidak mau melihatnya datang . Ayah menengok ke arah pintu .
" Om " . Dia mengatakannya .
" Ayah keluar dulu sayang " . Ayah mengusap rambutku dan mencium keningku . . . . Aku tetap dalam posisiku diam tidak menatapnya .
" Ayah keluar sayang " . Ayah keluar dan digantikan kumbang berdiri disamping keranjangku . Aku sadar kehadirannya . . . Aku langsung mengangkat badanku duduk diatas keranjang . Aku memalingkan wajahku dari hadapannya . Kumbang meletakan bunga yang dibawahnya diatas keranjang . . . . Warnanya merah hati terbungkus rapi didalam plastik .
" Bagaimana keadaan kamu ? Sudah baikkan ? " . Dia duduk disampingku .
" Mau ngapain kamu kesini ? " . Aku masih memalingkan wajahku dari hadapannya .
" Aku . . . Aku hanya ingin melihat keadaan kamu " . Dia takut salah .
" Sudah lihat keadaan aku kan ? Aku baik_baik saya . . . Sekarang keluar " . Sekarang aku melihatnya .
Dia tidak menjawab . . . Diam tidak ada kata_kata yang keluar dari mulutnya .
" Keluar ! " . Aku menghentaknya .
"  Kamu masih suka senja kan ? " . Dia bertanya bodoh .
" Aku harus bilang berapa kali ke kamu aku tidak pernah menyukai senja . . . Aku tidak pernah " . Sakit aku harus mengatakan itu . . . Aku benci senja ! Aku akan mencobanya .
" Aku tahu . . . " . Dia ingin menjelaskan , namun aku memotongnya .
" Kamu tidak tahu . . . Kamu tidak pernah tahu , kamu hanya orang baru dihidupku " . Aku menghentaknya lagi . . . Yang membuat wajahnya berubah .
" Aku memang orang baru dihidupmu , tapi aku tahu kamu suka senja , kamu suka suasananya , kamu suka anginnya , kamu suka warnanya dan kamu suka segalanya tentang senja bahkan kamu mencintainya " . Sekarang dia berteriak , nafasnya tidak beraturan , dia mencoba mengendalikan .
" Pergi dari hadapanku pergi " . Tanganku menunjukan ke arah pintu . . . Tajam dan tegas .
" Okeh . . . Tapi ingat aku akan membuatmu kembali seperti dulu . . . " . Belum selesai dia berbicara aku memotongnya lagi .
" Pergi sekarang pergi " . Aku merebahkan badanku dikeranjang dan menutupnya dengan selimut sampai ke leher .
" Aku pergi . . . Jaga dirimu baik_baik  " . Dia melangkah pergi dari hadapanku .
Hari_hari berikutnya kumbang selalu datang kesini , setiap hari hingga sampai aku harus membentaknya setiap dia datang . . . Kesal , benci , sakit dan marah  bercampur aduk menjadi satu hingga aku tidak tahu rasa apa yang kini  mengendalikanku . Ayah pun selalu meminta kumbang untuk menjagaku disetiap ayah sibuk . . . . Dan kumbang selalu ada waktu untuk menjaga dan menemaniku . Dia selalu membawakan bunga , lukisan tentang senja yang berganti_ganti setiap hari . . . Aku tetap tidak peduli tentang apa yang dia lakukan . Satu minggu lebih sudah aku dirawat dirumah sakit . . . Hari ini aku pulang ke rumah . . . Kumbang disini membantu ayah dan itu pun aku tidak peduli .
Hari ini aku rapi dengan seragamku . . . . Aku sudah siap , aku membuka pintu , ayah mengikutiku dari belakang . . . . Ada kumbang disana dengan sepedanya .
" Hey . . . Ikut sepedaku " . Dia tersenyum .
Aku melihat ayah . . . Ayah tersenyum dan menganggukkan kepalanya . Tidak . . . ! Kataku dalam hati , aku mengambil sepedaku yang sudah terpakir diluar . Aku menaikinya dan mengayunkannya  cepat . Kumbang mengejarku dan aku terkejar olehnya . . . Sekarang dia beriringan denganku . Aku lebih cepat mengayunkan sepedaku . . . Dan dia tetap mengejarku .
Aku memparkirkaan sepedaku , dia pun memparkirkan sepedanya disamping sepedaku . Aku tidak peduli . . . Aku berjalan cepat , dia mengikutiku . . . Setiap hari dia melakukannya , aku pun selalu dibuat kesal oleh kelakuannya .
Hari ini dia tetap sama berusaha tidak putus asa , setiap saat , setiap waktu dia selalu mengikutiku dari belakang , dimulai dari jam istirahat , ditaman , diperpustakaan bahkan dia tidak peduli dengan anak_anak yang lain yang mengajaknya bermain basket permainan kesukaannya  , ke kantin atau pun pulang bareng . Dia tidak peduli hanya berfokus denganku . Setiap hari dia selalu mengajakku untuk melihat senja ketika pulang dan aku selalu menolaknya dan setiap hari pula dia tidak bosannya selalu mencari perhatianku dengan melakukan hal_hal konyol bahkan idiot bagiku .
Aku berjalan mondar_mandir didalam kamar , bingung dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan . Besok adalah hari spesial bagiku . . . Hari ulang tahunku ! Apa mungkin aku harus melihat senja dan mengajak ayah seperti hari_hari ulang tahunku sebelumnya . Tapi bagaimana dengan kelakuanku akhir_akhir ini . . . Apa mungkin mereka berdua akan tertawa dengan sikapku yang sekarang mengajaknya melihat senja lagi . Tapi harus bagaimana ? Hanya senja lah momen yang selalu ada disetiap kebahgiaanku . Mungkin aku harus menurunkan egoisku . . . Dan mulai berubah menjadi seperti dulu , lagi pula mereka juga berusaha untuk merubahku menjadi seperti dulu , menyukai senja , menikmati anginnya dan suasananya . Iyah harus aku lakukan ! . . . Mungkin aku yang terlalu sensitif saja dan tidak mau menerima kenyataan jika senja memang ada kerena ibu dan ibu sudah pergi , memilih kebahagiaan dan senyuman yang lain . . . Aku harus menerima hal itu ! . Ayah juga tidak bersalah dalam hal ini , apa lagi kumbang dia tidak tahu apa_apa tentang ini . . . . Aku harus merubah sikapku menjadi lebih dewasa mungkin itu pilihan terbaik dan memang aku tidak bisa membenci senja . . . Tidak bisa ! Aku tersenyum didepan cermin .
" Ayah " . Aku mengetuk pintu kamar kerja ayah .
" Iyah . . . Sayang masuk " . Suara ayah dari dalam .
Aku membuka pintu dan melihat ayah yang sedang sibuk dengan kertas_kertas kantornya .
" Ayah . . . Ayah sibuk tidak ? "  . Aku mendekati ayah , berdiri didepannya  dan ayah sedang duduk dikursi kerjanya .
" Tidak terlalu . . . Tumben ! ada apa sayang ? " . Aku duduk dibarisan sofa yang terdapat diruangan kerja ayah .
" Ehhh . . . Aku minta maaf yah " . Aku tertunduk menyesal .
" Sayang ! . . . Kamu tidak salah , ayah yang salah , ayah minta maaf " . Ayah berganti tempat duduk dan sekarang dia duduk disampingku .
" Tidak yah aku yang minta maaf . . . Aku yang salah , eehhh . . . Begini yah ayah sibuk tidak besok ? " . Aku tersenyum dan ayah pun tersenyum . 
" Ehhh . . . Kayahnya tidak sayang emang ada apa ? " . Ayah mengusap rambutku lembut .
" Begini yah . . . Aku ingin mengajak ayah melihat senja , bisa tidak ? " . Aku mengatupkan rapat bibirku . Aku lihat wajah ayah berubah . . . Dia tersenyum .
" Serius ? " . Ayah mengusap rambutku lagi dan aku hanya mengangguk .
" Okeh . . . Besok lihat senja " . Ayah mengecup keningku dan menurunkan tangannya dari rambutku .
" Janji " . Aku memberikan jari kelingkingku seperti yang dilakukan dulu_dulu dan aku merindukan hal itu .
" Janji " . Ayah menyambutnya dan mengaitkannya dengan jari kelingkingku . Kita sama_sama tersenyum dan ini yang aku inginkan .
" Ayah ! Ini terakhir aku mengajak ayah melihat senja . . . Dan aku tidak akan melakukannya lagi selain hari besok . . . Ayah harus ingat itu ! " . Aku melepaskan jariku . . . Aku berjalan keluar mengatakannya . Aku tidak tahu seperti apa perubahan pada wajah ayah sekarang , setelah aku mengatakan hal itu . . . dan mungkin ini memang terakhir aku melakukannya dan tidak akan pernah lagi . Aku tidak sabar menunggu besok . . . Dan aku berharap ayah datang dan tidak melupakan jika besok adalah hari ulang tahunku .
Aku sudah siap hari ini . . . Ayah tersenyum pagi ini . Ada Kumbang didepan dengan sepedanya seperti biasa , aku mengambil sepedaku dan menaikinya .
" Ayah aku berangkat " . Aku melambaikan tanganku kepada ayah  . Mungkin kumbang bingung dengan sikapku pagi ini .
" Iyah sayang . . . Ayah siap melihat senja nanti sore " . Ayah melambaikan tangannya juga dan aku mengangguk tersenyum .
" Apa ! Kamu akan melihat senja bersama ayah ? Kenapa tidak bilang kepadaku ? Aku ikut ! " . Kumbang mengayunkan sepedanya . . . Dan beriringan denganku .
" Tidak , tidak . . . " . Aku menghelak dan mempercepatkan laju sepedaku .
" Hey kamu masih suka senja kan ? " . Kumbang mengejarku , aku mempercepat , dia mengejarku lagi dan aku lebih cepat lagi . . . Kami kajar_kejaran dijalanan . . . Tiada yang menang atau sampai lebih dulu , tapi yang ada hanya rasa ini yang aku rindukan .
" Senja aku pulang duluan iyah , ada yang harus aku kerjakan ! " . Dia mengambil tasnya lalu beranjak pergi . Aku tidak tahu apa yang dia lakukan . . . Tapi sebenarnya hati aku heran , tumben ? Biasanya dia pulang selalu mengikutiku . . . Dan sekarang , entahlah aku tidak peduli . . . . Yang aku peduliin ayah harus datang disenja ini ! Aku mengayunkan sepedaku lebih cepat , tidak sabar untuk berada ditengah_tengah suasana senja bersama ayah . Aku melihat laut yang merambat tenang menuju ketepian ,  bersama rasa yang ingin dia sampaikan kepada setiap pasang  mata yang melihatnya . Masih sama seperti dulu indah dan menyenangkan . Aku menghiasi diriku dengan kebahagiaan dulu yang diberikan senja kepadaku . . . Mengingatnya kembali disetiap detik alurnya yang aku habiskan bersama ayah disini . . . . Bahagia aku rasa ! .
Aku berhenti ditepian jalan yang tenang . . . Tidak ada siapa_siapa , sepi dan kosong aku lihat , ayah belum datang mungkin sebentar lagi ayah datang ! Aku melihat jauh ke arah laut namun lebih dalam aku merasakannya lebih dalam hingga melayang aku rasakan , melayang   disetiap rasa yang dia tampilkan sekarang . Angin yang masih sejuk menerpa wajahku , suasana yang damai aku nikmati . . Sudah berapa lama aku tidak kesini ? Aku berkata dalam hati . Ponselku berdering terburu_buru .
" Siapa yang menelponku ? " . Aku cepat mengambil ponselku disaku baju .
" Ayah " . Ayah ! Tertulis jelas dilayar ponsel . Mungkin ayah akan datang atau sudah berada dijalan .
" Hallo . . . Ayah ! " . Aku mengangkatnya .
" Sayang maaf , ayah harus meeting hari ini maaf sayang ayah tidak bisa datang , kamu bisa mengertikan ? " . Suara ayah dari balik ponsel . . . Ayah tidak datang ! Aku langsung menurunkan ponselku dari telingaku . . Ayah tidak datang ! Sakit , kecewa dan benci bercampur menjadi satu . Air mataku menetes membasahi pipiku . . . Ayah tidak datang ! . Ayah masih berbicara  dibalik telepon . Aku tidak tahu apa saja yang dia bicarakan hanya terakhir yang aku dengar " Selamat ulang tahun sayang " .  Kemudian dia mematikan teleponnya . Aku tidak peduli . . . Ayah jahat , ayah sama seperti ibu , dia mengingkari janjinya dan membuatku hancur tidak karuan . Awan mengeluarkan rasa yang ada pada dirinya . . . Suara petir berkejaran ku dengar , dia siap menyambut kekasihnya hujan . Hujan jatuh deras dan kompak membasahi seragamku . Aku jatuhkan ponselku ke jalanan tidak tahu dia hancur atau tidak namun aku membiarkannya berteman dengan air hujan yang mengalir turun . . . . Sepedaku aku hempaskan ke jalanan , dia tidak menolak sekarang dia juga merasakan hancur sepertiku .
Aku berlari dihamparan pasir putih , berhenti dan berdiri disana . Aku tatap awan yang hitam menutupi langit senja , senja tidak datang hari ini mungkin dia sudah tahu jika ayah tidak akan datang atau mungkin selama ini dia berpura_pura baik kepadaku , memberikan kebahagiaan yang sekarang menjadi hitam seperti awan yang kini melindungiku dari kejahuan diatas . . Sekarang senja menunjukan jati dirinya , jahat seperti ayah dan ibu . Aku turunkan badanku ke ribuan pasir putih , duduk dan menangis .
" Senja " . Suara itu . . . Kumbang ! Aku menatapnya dari bawah . . . Dia melihatku dalam momen yang sama menangis diantara hujan , mungkin dia tahu apa yang terjadi . . . Ayah tidak datang ! .
" Senja " . Dia memanggilku lagi . . . Aku hanya terdiam , aku mengangkat badanku berdiri didepannya . Seragamnya basah tidak rapi bentuknya , rambutnya berantakan terkena air hujan .
" Senja selamat ulang tahun untukmu " . Dia mengatakannya terengah_engah , nafasnya tidak beraturan namun dia berusaha mengaturnya . . . Mungkin dia habis berlari_larian dibawah hujan . Aku hanya diam menatapnya , kedua tangannya memegang 4 balon berwarna_warni yang dibawahnya untukku  . Dua balon ditangan kanannya biru dan merah hati warnanya dan dua balon lagi ditangan kirinya hijau dan kuning cerah juga warnanya . Perpaduan warna yang serasi . . . Tapi aku tidak peduli , bukan dia yang aku inginkan sekarang untuk datang atau pun 4 balonnya yang kini dihadapanku berdiri tegak dipegangan tangannya  tapi yang aku inginkan ayah datang ke sini dan mengucapkan selamat ulang tahun untukku seperti janji ayah semalam . . . Tidak ! Semua sudah terlambat ayah tidak akan datang ! .
" Kamu masih suka senja kan ? " . Dia menanyakan pertanyaan itu lagi bodoh dan tidak mengerti keadaanku sekarang , mungkin dia tahu tapi hanya berpura_pura !
" Aku benci senja " . Aku mengucapkannya , air mataku menetes . . . Dia terdiam .
" Aku benci senja " . Aku mengulanginya lagi . . . Wajahnya berubah , tiada senyuman yang biasa dia tampilkan diwajahnya . Aku pergi meninggalkannya . Lari , aku mengambil sepedaku yang terjatuh dijalanan . Aku tidak memperdulikan dia . . . . Hari ulang tahunku tidak seperti hari_hari ulang tahunku yang lalu . .   . . Yang biasa aku lewatkan bersama ayah disini dibawah naungan langit senja yang juga seperti ayah hari ini . . . Tidak datang ! . Dan sekarang seharusnya ayah datang memberikan apa yang dia berikan dulu . Aku masih ingat dulu . . . Disetiap hari ulang tahunku ayah selalu memberikan kejutan untukku . Aku masih ingat . . . Ayah selalu menutup mataku dengan kain , mengikatnya kencang hingga tiada yang aku lihat , hitam dan gelap . Ayah menuntunku dari belakang memegangi kedua pundakku . Setelah ayah membukanya , aku melihat dermaga yang penuh hiasan balon_balon berwarna_warni yang diikatkan disetiap tiangnya . Tidak meriah memang hanya sederhana tapi itu kebahagiaanku . Didepanku ada meja yang diatasnya terpajang indah kue ulang tahun , bundar bertingkat bentuknya , warnanya biru berdominan warna kesukaanku bercampur coklat bertaburan . Disekeliling sudutnya ada buah kecil berwarna merah . . . .  Strawberry ! . Menancap manis disana . Diujungnya ada lilin yang dibentuk sesuai umurku , dan terakhir membentuk angka 16 aku lihat . Disampingnya ada minuman kesukaanku jus jeruk yang terlihat dinamis didalam gelas yang penuh hiasan pernak_pernik mengelilingi disetiap sudut permukaannya yang ditampilkan . Sebelum aku meniupnya kita berdua selalu berdoa bersama , memejamkan kedua mata dan mengucapkan harapan yang diinginkan didalam hati . Terakhir yang aku ucapkan " Aku ingin bahagia bersama ayah dan senja disini . . . Bahagia selamanya " . Setelah itu kita berdua meniup lilinnya sama_sama yang kemudian kita bermain kue saling membalas , melempar dan mencolek menggunakan kue hingga wajah kita penuh dengan kue , kotor , lengket dan terasa manis . . . Namun sekarang ayah tidak datang ! Aku merindukan hal itu , aku masih ingat dan ayah melupakannya . Aku terus mengayunkan sepedaku cepat aku melakukannya , aku masih menangis seperti tadi dan hujan semakin deras mengguyur mambasahiku . Didalam hidupku ada banyak hal yang tidak berarti untukku . . . Kecuali hanya kebahagiaan bersama ayah dibawah langit senja yang ingin selalu aku genggam ditanganku , namun ayah merusak jalannya hingga membiarkan aku melepasnya dan menjatuhkannya tiada berarti .

Sabtu, 09 Januari 2016

Senja

PART IV .
" Kumbang " . Cukup keras suaraku yang membuat semua anak_anak diruangan kelas ini merasa terganggu pekerjaannya karena mereka sedang berfokus mengerjakan tugas yang diberikan .
" Ada apa ? " . Tanyanya pelan . . . Dia mendekatkan wajahnya ke arahku .
" Eh . . . tidak . . Tidak jadi " . Aku tidak meneruskan perkataanku . . . . Dan beralih menghadap ke depan .
" Hey . . Ada apa ? " . Dia menendang_nendang kursiku dari belakang . . Tetapi aku tidak memperdulikannya .
Aku tidak tahu bagaimana caranya untukku memberitahu dia jika dia akan aku perkenalkan kepada ayah . Aku berpikir sambil memutar_mutarkan bolpoin ditanganku dan mencoret_coretkannya dibuku tugasku .
" Senja kamu sedang ngapain ? " . Pak guru bertanya heran berdiri disampingku .
" Tidak Pak ? . Jawabku gugup menutup buku . Bodohnya aku hingga tidak sadar jika Pak guru mendekatiku . . . Kesalku dalam hati .
" Kamu sudah selesai ? " . Dia mengambil buku tugasku .
" Eh . . Sudah Pak , sudah selesai " . Aku membenarkan posisiku .
" Oh iyah sudah . . . Jangan melamun ! " . Meletakan buku tugasku . . . Dan berjalan untuk melihat hasil pekerjaan anak lainnya .
Bel istirahat baru saja berbunyi dan pak guru juga baru saja keluar meninggalkan ruangan kelas diikuti anak_anak lainnya dibelakang . Aku merapikan isi tasku . . . Aku bergegas keluar tidak ada tujuan mau kemana . . . . Hanya sebuah kursi panjang dekat dengan lapangan seperti kemarin yang menjadi tempat favoritku sejak pertama aku menginjakan kaki disini .
" Senja tunggu " . Aku berhenti diambang pintu ruangan kelas . . .  Aku menoleh ke arahnya .
" Kamu mau bilang apa tadi ? " . Dia mendekat ke arahku  .
" Tidak ada yang ingin aku omongin ke kamu " . Aku melangkah pergi membelakanginya .
" Tapi tadi . . . . Senja ! " . Seperti biasa aku menghiraukannya .
Kali ini hari berlalu begitu singkat terasa . . . Mungkin karena ada kumbang , dia menemaniku seharian , aku bercerita banyak tentang senja kepadanya dan dia menceritakkan semua tentangnya . Hangat dan tidak sepi itu yang aku rasa . . . Aku sungguh bahagia hari ini dan dia . . .  Nampak bahagia juga sepertiku .
Aku duduk didermaga memandang langit senja . . . Kakiku menggantung ke bawah diatas laut . Begitu indah memang ! Kumbang berjalan ke arahku sambil membawa ikan bakar yang baru dibakarnya tadi bersama orang_orang yang tidak tahu mereka itu siapa .
" Ini ikan bakar . . . . Kamu suka kan ? " . Dia duduk disampingku sambil menyodorkan dua buah ikan bakar diatas piring bergambar hati merah dipermukaanya . Aku tersenyum melihatnya .
" Suka . . . Terimakasih " . Kami saling menatap dan mata kita bertemu . Matanya berlari ke arah ke langit senja . . . Menatapnya hingga terasa dekat pada perasaanya .
" Indah iyah ! Seperti kamu " . Dia tersenyum . . .  . matanya masih menatap langit senja yang masih kokoh bertahan disana . Aku hanya terdiam . . . Aku mengerti apa yang dia katakan . . . Indah sepertiku ! Dia mengatakannya untukku .
" Oh iyah . . . Kamu mau bilang apa tadi pagi ? " . Dia mengambil ikan bakar itu sedikit dan memakannya .
" Tidak ada " . Aku menggelengkan kepalaku .
" Ayo lah . . . Aku penasaran ! "  . Dia mengambil sedikit ikan bakar itu dan memakannya lagi .
" Hmmm . . . Sebenarnya aku ingin mengenalkan kamu kepada ayahku besok lusa " . Aku takut salah . Ekpresi wajahnya langsung berubah . . . Terkejut namun mencoba mengerti . Dia terdiam hanya terdiam mungkin dia berpikir .
" Kalau kamu tidak mau juga tidak apa_apa , aku tidak marah apalagi memaksakanmu untuk bilang iyah " . Aku menundukan kepalaku ke bawah melihat air laut yang bergoyang tidak tenang .
" Hahahaha " . Dia tertawa memandangku .
" Kenapa kamu tertawa . . . Kamu tidak marah ? " . Aku bertanya heran .
" Habisnya kamu lucu . . . Iyah pasti aku mau dan kenapa aku harus marah ? " . Dia memgambil sedikit ikan bakar itu lagi . . . Dan memakannya .
" Benar . . . Aku pikir kamu marah " . Aku berharap penuh .
" Ayo makan ikannya . . . Besok lusa kan ditempat ini biasa " . Dia mengangkat piringnya . . . Dan dipegangnya diatas pangkuannya .
Aku mengangguk bahagia . . . Senja kali ini benar_banar membuat hidupku menjadi sempurna . Dia , aku akan  mengenalkannya kepada ayah . . . Dua orang yang telah menghidupkan jiwaku . . . . Aku rasa aku ingin hidup selamanya .
Aku duduk didepan cermin , memandang wajahku yang putih pucat warnanya . Aku mulai menaburkan sedikit bedak pada pipiku , aku mengoleskan tipis lipstik berwarna pink pekat pada bibirku . . . .  Nampak serasi disana dengan bibirku yang membentuk seperti hati . Aku ikat setengah rambutku hingga nampak anggun terlihat . Aku mengenakan gaun tanpa lengan berwarna hitam pucat , panjangnya menjuntai sampai ke mata kaki , tidak ada hiasan atau embel_embel sekalipun yang melekat . Hanya gaun sederhana namun terlihat menarik dan kontras dengan warna kulitku yang putih langsat . Aku tidak berdandan lebih hanya ini yang aku bisa . . . Aku masih duduk didepan cermin dan aku tersenyum . . . Aku sudah siap hari ini ! Kataku dalam hati . Memang pertemuan ini tidak resmi namun aku ingin terlihat indah disepasang kelopak matanya .
" Senja , ayah sudah siap ! " . Ayah memanggilku , mungkin ayah sudah rapi .
" Iyah ayah , senja keluar " . Aku membereskan semuanya dan keluar menemui ayah . Aku membuka pintu kamarku . . . . dan menutupnya . Aku berlari keluar rumah . . . Ayah sudah menungguku didalam mobil . Aku menutup pintu rumah , menguncinya , melangkah ke mobil , membuka pintu depannya dan menutupnya lagi . Aku duduk dijok depan samping ayah .
" Kamu sudah siap ? " .  Ayah melihat ke arahku .
" Siap ayah " . Aku mengangguk tanda siap .
" Kamu cantik sayang " . Ayah tersenyum sambil menyalahkan mesin mobilnya .
" Terimakasih ayah . . . Ayo jalan " . Aku sedikit cemas . Ayah tahu hal itu ayah memegang tanganku menenangkan perasaanku .
" Jangan cemas , jangan gugup ini hanya pertemuan biasa sayang tenangkan perasaanmu " . Ayah melepaskan genggamannya dan berfokus pada kemudinya . Ayah memang tahu apa yang aku rasakan . . . Aku mencoba menenangkan diri dengan beberapa kali menghela nafas . Ayah nampak gagah terlihat . . . Dengan balutan jas hitam yang menutupi baju putih didalamnya dengan rapi . Celana panjang hitam dan sepatu hitamnya menandakan seperti resmi acara pertemuannya  .
" Kamu mencintainya ? " . Pertanyaan itu . . . Ayah memang tahu aku . Entah apa yang harus aku jawab aku hanya berpikir terdiam .
" Kenapa diam saja ? " . Ayah menekanku sekarang .
" Eh . . . Aku tidak tahu yah " . Aku memang tidak tahu apa yang harus aku jawab , apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya . . . Tapi itu tidak mungkin . Ayah mengangguk mungkin dia mengerti maksudku . . . . Aku tidak ingin mengatakannya sekarang .
Ayah memparkirkan mobilnya dijalan dekat pantai . Aku turun dan ayah turun . . . . Tidak ada siapa_siapa sepi namun tenang .
" Dia belum datang yah " . Aku melangkah ke pasir putih .
" Iyah sudah kita tunggu aja disini " . Ayah mengikutiku .
Aku berjalan melangkah pelan diatas dermaga . . . Aku duduk diujung dermaga . . . . Ayah duduk disampingku . Kami berdua sama_sama melihat langit senja yang mulai menunjukan jati dirinya . .
" Masih indah seperti dulu sayang " . Ayah mematap langitnya . . . Pandangannya jauh ke depan seperti langit senja ini menampilkan kisah yang sudah lama dia lalui disini .
" Dia belum datang juga yah " . Aku melihat kebelakang dan dia masih belum ada .
" Sudahlah kita tunggu saja . . . . Jika dia tidak datang besok kan ada waktu lagi " . Dia membelai rambutku dan menatapku yang terlihat cemas .
Aku tersenyum tenang . . . Ayah tidak akan marah jika dia tidak datang hari ini . Senja sudah datang dan dia belum datang . . . Warna senja sedikit layu tapi tetap dia masih menunjukan suasana damainya .
" Aku ingin bertanya kepada ayah dan ayah harus menjawabnya " . Iyah aku ingin bertanya tentang hal itu , pertanyaan dulu yang belum aku temukan jawabannya . Dan ini adalah waktu yang tepat .
" Kamu ingin bertanya apa ? " . Tatapannya penasaran .
" Pertanyaan ini . . . . Pertanyaan dulu ayah . . . Ehhhh kenapa ayah suka senja ? " .  Akhirnya aku tanyakan juga . . . Namun wajahnya berubah . . . Tatapannya menjadi tajam jauh , dia seperti mengingat sesuatu .
" Hmmm . . . . Karena ibumu " . Jawab ayah ragu dan takut salah .
" Karena ibu ? Maksud ayah ? " . Aku tidak mengerti jawaban ayah .
" Iyah karena ibumu , dulu ayah bertemu ibumu disini , banyak hal yang ayah lewati bersama ibumu di tempat ini . . . Dan ayah kesini karena ayah ingin mengingatnya , dia wanita baik seperti senja yang menenangkan . . . Makanya ayah suka mengajakmu ke sini karena ayah tidak ingin melupakan ibumu " . Aku mencoba untuk mengerti tapi ibu . . . Dia adalah orang yang aku benci dan ayah tahu itu .
" Ayah masih mengingat ibu ? " . Ayah hanya mengangguk . Mungkin ayah tahu perubahan perasaanku sekarang . . . Dia mencoba menenangkanku namun aku menghindar karena memang sudah terlambat untukku . . . . Aku meneteskan air mataku dan ayah melihatnya .
Aku berdiri mungkin pergi yang akan aku lakukan sekarang .
" Aku benci senja . . . . Aku benci senja ayah aku benci senja " . Aku menangis , wajahku basa . . . Aku mencoba berlari untuk pergi namun ayah memegang tangan kananku  .
" Sayang . . . Tolong dengerin penjelasan ayah " . Ayah semakin kencang memegang tangan kananku , sakit rasanya tapi itu tidak seberapa .  Tangan kiriku mencoba untuk melepaskan pegangan tangan ayah tapi tenaga ku tidak sekuat tenaga ayah . . . Dan hujan mulai turun satu_persatu .
" Ayah tahu aku benci ibu . . . Kenapa ayah kenalkan aku kepada senja ? " . Aku merontah berusaha untuk berlari tapi ayah tetap kuat memegangi tangan kananku bahkan semakin kencang .
" Karena ayah sayang ibumu . . . Dia ibumu sayang dia . . . .  " .  Ayah berusaha menjelaskan namun aku memotongnya , jauh didalam hatiku aku masih ingat luka itu dan sekarang aku tidak ingin mengingatnya lagi , apa lagi bersahabat dengan senja karena ibu . . . Itu tidak akan pernah aku lakukan .
" Tidak ayah tidak aku benci ibu . . . Ibu jahat ayah ibu jahat . . . Jika dia baik dia ada disini sekarang " . Aku berhasil lepas dari pegangan tangan ayah , aku masih tetap menangis . . . Kini hujan semakin deras berjatuhan membasahi seluruh yang berada dibawahnya . Aku berlari , menangis dan tidak peduli dengan panggilan ayah yang terus_terusan aku dengar . Aku melihat kumbang berdiri ditengah dermaga , bajunya basah termasuk bunga yang berada ditangannya . Dia tidak menghampiriku mungkin dia mendengar semuanya . . . . Aku berhenti didepannya . Dia melihatku menangis , dia hanya diam menatapku layu . . . Tidak ada kata_kata yang keluar dari mulutnya , dia melepaskan pegangannya dari bunga itu . . . Bunga mawar berwarna merah cerah  itu sekarang jatuh bercampur dengan air hujan dan dia tidak memperdulikannya . Aku berlari meninggalkannya . . . Dia tidak mencegahku dan membiarkanku menjauh lalu menghilang dari pandangannya . Hujan semakin deras , rasanya dingin menusukku . . . Aku belum sepenuhnya melupakan luka itu , luka itu kini seperti tumbuh lagi dan menjulur ke setiap bagian sudut  tubuhku .
Aku langsung masuk ke kamarku . . . Aku tidak peduli dengan bajuku dan badanku yang kini basa . Aku membanting semua barang_barang yang berhubungan tentang senja ke lantai termasuk buku_buku yang ayah belikan . Semuanya , lukisan tentang senja yang ayah lukis sendiri dan terpajang rapi didinding kamarku . . . . Aku merusaknya hingga menjadi bubur dilantai . Aku masih tetap menangis dan hujan pun masih deras terdengar . . . Aku duduk dipinggiran tempat tidur , kedua tanganku memegang rambut aku ingin sekali menjabaknya hingga rontok namun aku sadar aku melakukannya pun semua tidak akan berubah aku masih tetap benci ibu . Aku menundukan kepalaku dan tanganku yang memeluk lutut .
Sebenarnya aku tidak ingin melewatkan hari ini tetapi aku masih tetap harus masuk sekolah . Aku menghindar dari kumbang . . . Meskipun beberapa kali kumbang memanggilku dan berusaha mendekatiku . . . Aku menjauhinya .
Beberapa kali juga aku dan kumbang berada ditempat yang sama , diperpustakaan , ditaman bahkan kumbang mengikutiku . . . Aku masih tetap sama menghidarinya .
Aku mengambil sepeda di parkiran dan aku menaikinya .
" Senja " . Dia menahanku seperti biasa dari belakang . Aku turun dari sepeda . . . Dan menatapnya tanpa berkata apapun .
" Aku ikut . . . Kita lihat senja " . Dia berlaga bodoh atau memang tidak tahu apa yang terjadi kemarin . Dia melihatnya bahkan dia berada dekat disana tapi aku tidak peduli . . . Aku tetap menaiki sepedaku lagi dan mengayunnya dan dia menahanku lagi .
" Senja . . . Kamu masih suka senja kan ? " . Dia memegangi sepedaku dari belakang .
Aku turun . . . Dan menatapnya kembali dengan tajam terdiam .
" Aku tidak pernah suka senja " . Sedikit menyakitkan memang . . . Tapi aku berjanji kepada diriku mulai sekarang aku mencoba untuk membenci senja .
" Kamu bohong " . Dia melepaskan tangannya dari sepedaku . . . Wajahnya berubah layu seperti tatapannya . Namun aku tidak peduli Aku tetap menaiki sepedaku kembali dan mengayunkannya dengan cepat .         
" Senja kamu bohong " . Dia berteriak keras . . . Aku hanya menoleh ke arahnya  dan tidak peduli .
Dirumah akupun sama , menghindari ayah , ayah beberapa kali berusaha untuk berbicara serius kepadaku . . . Tetapi aku tidak menghiraukannya ! Ayah tahu apa yang terjadi tetapi ayah tidak bisa apa_apa karena ayah semakin sibuk dengan pekerjaannya .
Seperti dimeja makan pagi ini , aku hanya diam tidak seperti biasanya . . . . Aku sadar ayah memperhatikanku tapi aku tidak peduli aku sibuk dengan roti bakarku . . . Yang aku oleskan sedikit demi sedikit dengan selai kacang kesukaanku .
" Hmmm . . . Ayah mau bicara serius kapada kamu " . Aku mendengar itu . . . . Tetapi aku masih sibuk dengan roti bakarku dan aku tidak peduli .
" Senja . . . Ayah mau bicara tolong dengarkan ! " . Ayah berdiri ,  bicaranya cukup keras . Aku berhenti dengan roti bakarku . . . Lalu aku tidak peduli lagi aku melanjutkan kegiatanku mengoles selai kacang .
" Senja . . . Ayah tidak mengerti maumu apa ? Senja ! " . Ayah menahan tanganku . Aku hanya diam . . . Aku letakan sendokku beserta roti bakarku diatas piring . Meskipun aku belum memakannya . . . Namun kali ini perutku tidak terasa lapar lagi .
" Aku harus berangkat sudah siang nanti aku terlambat " . Aku berdiri dan mengambil tas sekolahku .
" Aku berangkat " . Aku yakinkan lagi kepada ayah . . . Aku meninggalkannya .
Disekolahan kumbang pun sama , dia berusaha untuk menarik perhatianku dengan melakukan hal_hal konyol . Dimulai dari setiap pagi dia menulis kata_kata tentang senja disecarik kertas dan meletakannya diatas mejaku namun aku selalu merobeknya dan membuangnya ke lantai . . . Tapi dia memungutnya lagi dan membuangnya ke tempat sampah . Dia tidak putus asa . . . . Kali ini aku duduk dimejaku , tidak ada anak disini karena semua ke luar untuk beristirahat . Aku menundukan kepalaku dimeja . . . Ini memang lebih parah ! Aku menghela nafas .
" Senja lihat , cantikan . . . ? " . Aku tahu suara itu . . . Aku mengangkat kepalaku . Kumbang . . . ! Dia didepanku sekarang membawa lukisan senja disebuah kertas . . . Cantik memang dengan panorama sebuah laut sore . . . Ada bola berwarna orange yang akan menyembunyikan dirinya diawan_awan senja . Warna itu memantulkan ke sekelilingnya . . . . Ada dermaga disana , diujungnya terlukis dua orang , laki_laki dan perempuan sedang duduk saling berpegangan . Indah dan terlihat nyata . . . Tapi aku tidak mungkin akan mengatakannya .
" Hey jangan diam saja . . . Cantikkan ? " . Dia tersenyum membentangkan lukisan itu didepanku . Aku tetap diam . . . . Tidak ada suara yang aku ucapakan .
Aku berdiri dan merebut lukisan itu dari tangannya , aku merobeknya hingga hancur berserakan dilantai . Dia menatapku . . . Wajahnya berubah menjadi tidak berarti . Dia menurunkan badannya ada rasa kecewa disana . . . Aku masih tetap berdiri melihatnya memunguti sobekan kertas yang berserakan  dilantai . Aku ingin menangis melihat hal itu . . . Dia menatapku dari bawah , air mataku menetes perlahan .
" Senja " . Dia berdiri , tangannya mencoba meraih wajahku . Aku menghindar . . . Aku mengusap air mataku dan berlari meninggalkannya .
Waktu terus berputar dia tetap berusaha . . . Aku mengambil sepeda ditempat parkiran . . . Anak_anak yang lain juga mengambilnya ,
aku menaikinya dan mengayunkannya pelan .
" Senja " . Dia berlari mengejarku . Namun aku tidak peduli , aku tetap mengayunkannya bahkan lebih cepat .
" Senja . . . Berhenti " . Dia didepanku berdiri , tangannya menahan sepedaku dari depan , aku turun dan berdiri memegangi sepedaku .
" Lepaskan tanganmu dari keranjangku " . Aku berusaha melepaskan tangannya tapi dia tetap kuat .
" Tidak senja tidak dengarkan aku " . Dia masih tetap menahan sepedaku .
" Tidak ada yang perlu didengarkan . . . Kamu pergi dari hadapanku " . Aku melepaskan tangannya dan berhasil .
" Senja Tidak . . . Ayo kita lihat senja " . Dia memegang tangan kiriku . . . Kencang rasanya .
" Kamu itu bodoh atau pura_pura tidak tahu . . . Aku benci senja , aku tidak pernah menyukainya " . Aku cukup keras mengatakannya hingga membuat semua orang_orang yang yang berada ditempat parkiran ini melihat kami berdua . Aku memandangi sekitar . . . Dan melepaskan paksa tangannya . Aku menaiki sepedaku dan mengayunkannya cepat . Kumbang hanya diam menatapku . . . Hingga aku menghilang dari pandangannya .
Aku duduk dipinggiran tempat tidurku , aku kunci pintunya . . . Semua berlalu begitu saja . Tentang senja , suasananya , warnanya dan kebahagiaan yang pernah aku dapat kini menjadi bayangan yang begitu mengerikan untukku .
Rumah ini sepi tidak ada suarapun yang aku dengar dari dalam . . . Ayah memang belum pulang . Aku menundukan kepalaku . . . Dan tanganku memeluk lutut . Aku menangis sepuasku , aku tidak tahu berapa lama durasiku menangis . . . Hingga mataku terasa sakit dan berat untuk membukanya . Aku mendengar langkah laki ayah dari dalam .
" Sayang " . Ayah memanggilku namun aku diam menghiraukannya .
" Sayang kamu sudah pulangkan ? Kenapa sepedanya tidak dimasukan ? hanya terparkir diluar " . Ayah mengetuk pintu . . . Aku tetap diam .
" Sayang " . Ayah mengetuk pintu lagi .
" Sayang ayah tahu . . . Kamu ada didalam " . Ayah masih sama mengetuk pintu . . . Aku hanya diam merasakan kesakitan yang ada diseluruh badanku . Aku berusaha berdiri tapi badanku kaku untuk digerakan , kepalaku sangat berat untuk diangkat , kedua tanganku memegangi perutku yang perih ku tahan , kedua mataku tidak jelas memandang . . . Buram seperti bayangan yang kabur , aku berdiri dan berusaha meraih apa yang ada didepanku , aku melangkah dan langkah kakiku gontai . Ayah masih memanggil_manggilku terus , mengetuk pintu bahkan semakin keras .
" Ayah . . . . " . Aku mengatakanya lemas . . . Aku tidak kuat , badanku terasa akan jatuh , aku pejamkan kedua mataku dan aku ingin tidur .

Kamis, 07 Januari 2016

Senja

PART III .
" Pagi " . Ibu guru memasuki ruangan kelas dengan tenangnya berjalan didepan kami membawa sepaket buku ditangannya .
" Pagi bu " . Kami menyambutnya .
" Hari ini kita kedatangan siswa baru . . . Sini masuk ! " . Berdiri  sambil meletakan bukunya dimeja .
Dia mulai memasuki ruangan kelas ini dengan langkah kaki yang santai , dia tersenyum . . . Wajahnya seperti tidak asing bagiku . . . Wajah yang dihiasi dengan senyuman klasik , tatapannya yang layu , bola matanya yang tidak melingkar penuh semakin jelas mengingatkanku jika dia laki_laki itu  . . . Kumbang ! Benar aku mengenalnya . . . Dia kumbang , matanya menyusuri disetiap sudut ruangan kelas ini namun kepadaku dia tidak menjatuhkannya .
" Ayo perkenalkan tentangmu ! " . Anak_anak yang lain memperhatikannya dengan tatapan yang penuh termasuk aku , aku tidak ingin meninggalkan momen ini .
" Nama saya Kumbang " . Dia mengatakannya singkat tapi yakin .
" Duduk dibangku yang kosong dan kemudian kita melanjutkan pelajaran minggu kemarin " . Bu guru mempersilakannya duduk , dia melangkah pelan . . . . . Dan kemudian dia duduk disana tepat dibelakangku  . Dia seperti tidak mengenalku  bahkan matanya tidak sedikitpun mengarah kepadaku atau mungkin  dia benar tidak melihatku . . . Apakah dia disini akan berpura_pura tidak mengenalku ? Lalu kemudian menjadi seperti yang lain tidak peduli denganku . . . Hah ! Hanya lamunanku yang tidak berarti .
" Tret . . . Tret . . . Tret  " . Bel istirahat berbunyi .
" Sampai disini dulu pertemuan kita , kita lanjutkan minggu depan " . Bu guru bergegas keluar meninggalkan ruangan kelas ini . . . Dengan membawa buku_bukunya .
Anak_anak berlarian keluar dari ruangan kelas . . . Aku membereskan semua alat_ alat tulisku . . . . Setelah selesai aku melangkah untuk keluar dengan ritme yang cukup cepat .
" Senja " . Suara itu membuatku berhenti tetapi aku tahu jelas suara siapa yang memanggil namaku . . . Dia masih mengenalku . Aku menoleh ke arahnya . . . Dan benar itu kumbang . Dia hanya berdiri terdiam diposisinya . . . . Hingga aku seperti tidak ingin menemuinya pada waktu ini . Aku berlari meninggalkannya . . . . . Melupakannya entah apa yang ingin dia katakan kepadaku .
" Senja . . . Senja tunggu " . Dia masih tetap memanggil namaku , namun aku tidak menghiraukannya . . . . Hingga suaranya tidak terdengar lagi dan menghilang dibalik ramainya anak_anak . Aku duduk dikursi panjang dekat dengan lapangan basket . Kursi panjang ini  terletak dibawah pohon besar yang rindang penuh tangkai yang ditumbuhi dedaunan kecil_kecil hingga tidak terlihat lagi langit_langit biru diatasnya bagaikan melindungi apapun yang berada dibawahnya dari sentuhan panas sinar matahari siang . Seperti biasa aku ditemani buku tentang senja yang dibelikan ayah . . . Aku sudah mempunyai banyak buku tentang senja dirumah yang aku letakan rapi dilemari . . . . . Hingga tidak terasa kini menumpuk disana .
Sesekali aku melihat ke arah lapangan . . . Ada anak_anak yang sedang bermain basket . . . Permainannya cukup seru berjalan dengan dilihat hampir seluruh orang_orang penghuni sekolah ini . Kumbang . . . Dia ikut bermain didalamnya , aku lihat dia cukup jago mempermainkan bolanya . . . Cukup cerdik juga untuk menipu lawan dan dengan mudahnya dia memasukan bola ke keranjang . Seketika itu semua tepuk tangan menjuru untuknya . . . Dan mungkin sekarang dia menjadi idola baru disini .  Aku kembali berfokus lagi pada buku cerita yang aku baca dan tidak memperhatikan apa yang terjadi disekitarku sakarang . . . Tidak lama setelah itu . . .  Aku melihat bola itu perlahan mendekatiku , dengan posisiku yang menunduk membaca buku . . . Terlihat jelas bola itu berhenti tepat dibawah kakiku yang menggantung . Aku meletakkan bukuku diatas kursi panjang ini , dan turun untuk mengambilnya . . . Aku berdiri dengan kedua tangan memegang bola , semua pasang mata melihat ke arahku sekarang . Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan dengan bola ini . . . Tetapi dengan sedikit keberanian aku ingin melakukan yang belum pernah aku lakukan . . . Iyah ! . Aku akan mencoba untuk memasukannya ke keranjang dari sini . Tidak ada teknik khusus yang aku punyai . . . hanya dengan pandangan fokus pada papan yang menjadi titik acuanku sekarang . Aku menghitung pelan dalam hati . . . Satu . . . Dua.   . Tiga dan aku melemparnya . . . Hanya lemparan asal_asalan yang aku lakukan . . . Bola itu melambung lurus ke atas , menabrak papan dan jatuh tepat diatas keranjang . . . Berputar_putar disana yang akhirnya dengan suksesnya memasuki keranjang yang kemudian jatuh lurus ke bawah  . Suasana menjadi hening . . . Namun dia . . . Kumbang memberikan satu tepukan keras untukku yang tidak lama diikuti dengan tepukan yang lain menjadi gemuru . Aku tersenyum  puas untuk ini . . . Aku tidak tahu itu tepukan karena aku hebat atau hanya lelucon yang mereka perankan untukku . Namun tidak dengan Kumbang dia tersenyum bangga untukku . . . Dengan senyuman klasiknya dia terlihat begitu gagah dengan berbalut wajah oriental menandakan jika dia laki_laki pribumi . Menjadi pusat perhatian itu hal biasa untukku . . . Tetapi aku tidak pernah merasakan rasa bahagia lebih seperti ini yang membuatnya . . . Dia menjadi luar biasa dimataku . Aku pun melangkah pergi meninggalkan tempat ini untuk menuju ruangan kelas .
Aku mengambil sepedaku diparkiran . . . Ada kebijakan disekolah ini , semua penghuni disekolah ini tidak boleh menggunakan sepeda motor . . . Hanya boleh diantar jemput atau menggunakan kendaraan lainnya dan juga menggunakan sepeda ke sekolah . Dan menggunakan sepeda adalah pilihanku hari ini . . . . Aku menaikinya .
" Senja " . Suara itu . . . Kumbang ! Dia menahan ku memegangi dari belakang . Aku menoleh ke arahnya dan turun dari sepeda .
" Kamu , ada apa ? " . Dia melepaskan pegangannya .
" Aku ikut kamu iyah " . Dia sama tersenyum lagi untukku .
" Ikut ? " . Dia merebut sepedaku dan menaikinya . . . . Aku hanya bisa diam melihatnya .
" Ayo naik nanti ke buru senja datang " . Aku tersenyum karenanya . . . . Iyah sebelum senja datang !  Aku pun bahagia karena itu . Aku duduk dibelakangnya . . . Diperjalanan kita tidak berbicara banyak hanya diam lalu ketawa tidak jelas . Kami menyusuri kota yang ramai , pohon_pohon yang hidup damai ditepi jalan , berhenti dilampu merah dan kesal karena tidak kunjung berubah hijau warnanya . Dan akhirnya kami menembus kota yang ramai . . . Sekarang kita berada dijalanan yang tenang . . .  Terlihat jelas laut dengan luasnya dan memang senja belum datang . Kumbang semakin cepat mengayunnya . . . . Seperti tidak sabar untuk sampai didermaga . Aku turun . . . Kumbang meletakan sepedaku dipintu dermaga . Aku masih ingin menikmati suasananya . . . . Aku memejamkan mata dengan wajah yang menghadap ke arah langit dan kedua tanganku aku rentangkan menjulur ke samping . Angin menyapu lembut wajahku . . . Dingin rasanya namun tenang dan damai .
" Senja ayo . . . Senjanya sudah datang " . Aku membuka mataku dan menurunkan kedua tanganku .
" Oh maaf " . Aku tersenyum kepadanya dan dia membalasnya .
" Ayo cepat . . . Senja sudah datang " . Dia manarik tanganku , erat dan hangat rasanya . Sentuhan yang belum pernah aku rasakan dan aku ingin dia semakin erat memegang tanganku . Kami berhenti diujung dermaga ini . . . Tepat didepan wajah senja yang kini warnanya jingga memerah tajam terlihat bahagia seperti suasana hatiku saat ini .
Aku melihat tanganku yang dipeganginya nampak erat memang . . . Dia tersadar dan melepaskannya .
" Maaf " . Dia sedikit menjauhiku .
Aku hanya tersenyum mengangguk .
" Tadi . . . Lemparanmu hebat " . Dia menirukan gaya seperti sedang memasukan bola ke keranjang .
" Tidak . . . Biasa saja , asal_asalan aku melakukannya " . Aku merendahkan diri . Suasana menjadi kaku . . . Hening hanya saling melempar senyum dan pandangan .
" Hmmm kamu berbeda " . Dia mencoba menghangatkan suasana .
" Berbeda , maksudnya ? " . Aku bertanya heran .
" Iyah . . . Kamu tidak seperti yang lainnya . Yang lain ingin terlihat indah setiap saat . . . Dan kamu tidak seperti mereka " . Dia tersenyum seperti takut salah pada jawabannya .
" Tidak seperti mereka seperti apa ? " . Dia pun terlihat bingung sekarang namun dia mencoba untuk menutupinya .
"Iyah . . . Kamu kaku dan aneh jika disekolah dan disini kamu berbeda berubah menjadi indah " . Dia memandangku layu . Aku mengalihkan pandangannya dengan melihat senja yang kini malam mulai membunuhnya dan dia pun mengikutiku .
" Oh . . . Aku kirain apa ? Ehmnn . . . Aku hanya tidak ingin seperti senja kebanyakan yang selalu terukir indah untuk semua mata , aku hanya ingin terlihat indah untuk sepasang kelopak mata " . Jawabku percaya , karena aku yakin pada diriku sendiri ada sepasang mata yang sudah menungguku untuk terlihat lebih dari indah .
" Siapa ? " . Pertanyaannya yang membuatku bingung tidak tahu , entah siapa yang membuatku ingin terlihat indah . . .  . Memang aku belum mempunyai alasannya .
" Kamu ingin tahu ? " . Aku bertanya balik , dia pun semakin terlihat bingung didepanku .
" Entahlah ! " . Dia mencoba untuk menghilangkan rasa kakunya . . . Matanya menatap langit yang semakin menghitam . Suasana hening kembali . . . Memang tidak ada pembicaraan yang membuat suasana menjadi lebih hangat seperti kemarin . . . Canggung dan kaku aku rasa . Aku tidak tahu apa yang berjalan didalam pikirannya , yang aku tahu saat ini hanya ingin berharap waktu berjalan lambat untuk menyambut pagi . . . Agar aku bisa berada disini lama didekatnya .
" Kamu cantik " . Dia mengatakannya dan memandangku penuh . .   Satu hal yang belum pernah aku dengarkan selain dari ayah . Aku hanya bisa terdiam menatapnya , kami sama_sama saling memandang penuh arti . Darahku mengalir deras ke bawah , gerakanku menjadi kaku , lidahku keluh terdiam , jantungku berdetak tidak karuan . Tidak tahu rasa apa yang aku rasakan saat ini . . . . Rasa yang begitu asing untuk aku rasakan namun aku bahagia dan aku menginginkan satu hal yang lebih darinya . . . Aku jatuh cinta kepadanya ! .
" Maaf . . . Aku harus  pulang " . Aku berlari meninggalkannya .
" Senja ! " . Dia memanggilku tetapi aku tidak menghiraukannya , aku masih tetap berlari . Mengambil sepedaku dan mengayunkannya dengan cepat .
Malam memang sudah membunuh senja , dan aku tidak bisa menghilangkan sosoknya dari pikiranku . Dia . . . Hah ! Aku memang benar_ benar sudah jatuh cinta kepadanya . Senyumannya yang klasik , tatapannya yang layu dan Ah . . . Bagaimana caranya untukku menghilangkan rasa yang aneh ini ? Apakah dia tahu ? Apakah dia rasa ? Ah . . . Aku keluar dari kamar mencoba untuk mencari kesibukan agar aku tidak kelamaan memikirkan tentangnya . Aku melihat ayah yang sedang membereskan sekumpulan kertas kantornya diruang tengah .
" Ayah " . Aku berjalan mendekatinya yang sedang duduk disofa .
" Ada apa sayang ? " . Ayah memasukan semua kertas kantornya ke tas kerjanya .
" Ayah sibuk tidak ? " . Aku duduk didepan ayah .
" Tidak . . . Ayah sudah selesai , emang ada apa ? " . Ayah merapikan posisi tasnya .
" Aku hanya ingin bertanya , boleh ? " . Aku tersenyum ringan .
" Boleh ? " . Ayah menjawab yakin .
" Ehhhh . . . Begini ayah , Ehhh . . . Aku cantik tidak ? " . Pertanyaan konyol yang spontan membuat ayah tertawa , aku hanya menyengir malu .
" Hahahaha . . . Kenapa kamu bertanya seperti itu ? Tumben , ada apa ? " . Ayah mengusap rambutku .
" Haha tidak ayah . . . Cuma ingin bertanya " . Aku tertawa malu dihadapan ayah .
" Begini , anak ayah ini cantik sedari dulu " . Ayah mengusap rambutku lagi .
" Ehhhhh . . . " . Ayah memotong pembicaraanku .
" Ada apa sayang ? Bicara saja jangan takut " . Ayah menurunkan tangannya dari rambutku dan memasang wajah serius .
" Besok ayah ada waktu untuk melihat senja ? " . Aku bertanya kepada ayah dan ayah diam berpikir .
" Ehmmm tidak ada besok ayah harus lembur , lusa mungkin ayah bisa " . Jawab ayah ragu seperti ada yang disesalinya .
" Lusa ! OKeh lusa iyah yah . . . Ayah harus janji " . Aku tersenyum penuh harapan .
" Janji . . . Emang ada apa sayang ? " . Ayah menyentuh hidungku .
" Hmmm gimana iyah ? Ehhhh aku ingin mengenalkan ayah kepada teman baruku . . . Kumbang " . Jawabku pelan aku takut ayah marah , karena baru akan mengenalkannya .
" Kumbang ? Dia laki_laki ? " . Ayah bertanya serius lagi .
" Iyah ayah , bolehkan aku berteman dengannya ? Dia baik ayah " . Aku masih sama . . . Takut ayah marah .
" Boleh , yang terpenting kamu suka kepadanya " . Ayah mengusap lembut  rambutku lagi  .
" Benar ? Ayah tidak marah ? " . Aku tertawa penuh riang . . . . Ayah mengangguk dan tersenyum .
" Kamu mencintainya ? " . Dia bertanya serius lagi . . . . Dan menurunkan tangannya dari rambutku .
" Apaan sih ayah ? Aku hanya temannya tidak lebih " jawabku kesal . . . Dan berdiri lalu melangkah menuju kamar untuk menyambut mimpi yang sudah menunggu pagi .
" Hahaha . . . " . Ayah tertawa melihatku .
Dan ayah , dia seperti tahu apa yang aku rasakan . . . Sekarang aku rasa aku memang mencintainya dan ayah mengetahui hal itu terhadapku . Laki_laki berwajah oval , tatapannya yang teduh penuh dengan kasih sayang . Yang membuat siapa pun merasa nyaman jika berada didekat ayah . Perasaan aneh itu muncul dengan sendirinya tanpa aku harus meminta . Rasa yang selama ini aku cari . . . Kini telah datang untuk menyambutku mendalami jalannya kisah yang belum pernah aku perankan didalamnya . . . . Dan aku berkata dalam hati . . . Kisahnya akan aku mulai dari saat ini ! .

Rabu, 06 Januari 2016

Senja

PART II .
Senja , aku pun semakin menyukainya . Hari_hari indahku aku lewati bersama ayah disini  . . . Entah berapa banyak kebahagiaan yang aku dapatkan , yang jelas . . . Luka itu aku rasa kini aku sudah melupakannya . . . benar aku sungguh melupakannya bahkan sosok ibu yang aku benci pun kini aku lupa seberapa hancur dia mematahkan sayapku dulu . Aku sungguh bahagia disini meskipun kehidupanku diluar sangat mengerikan untukku . . . Tetapi jika aku berada disini bagaikan begitu sempurna hidupku .
" Senja " . Ayah mendekatiku dan berdiri disampingku yang ketika itu aku sedang menikmati suasana langit yang sedang menenggelamkan bolanya perlahan . . . . Aku hanya diam saja hanya menoleh ke arahnya .
" Kamu sudah mempunyai kekasih ? " . Pertanyaan ayah yang membuatku tidak bisa berkata apa_apa . Dalam hati aku tertawa . . .  Kekasih ! . Cinta yang kata orang sungguh indah jika dapat merasakannya pun .   . . . Aku tidak pernah tahu seperti apa rasanya apalagi kekasih itu tidak mungkin untukku .
" Sayang jangan diam saja . . Jawab pertanyaan ayah " . Ayah menepuk pundakku .
" Eh . . Eh . . Eh . . . Kekasih senja kan ayah ". Jawabku meringis yang membuat ayah langsung tertawa .
" Hahaha . . . Bukan sayang ! Maksud ayah laki_laki yang kamu sukai dan menyukaimu " . Jawab ayah mengelus rambutku .
" Iyah aku menyukai ayah , ayah menyukai aku juga kan ? " . Jawabku spontan yang membuat ayah tertawa lagi dan menurunkan tangannya dari rambutku .
" Tidak . . . Tidak , begini saja . . . Anak ayah ini kan cantik . . . Jadi ayah ingin tahu . . . siapa orang yang anak ayah cintai ? Tentunya selain ayah " . Pertanyaan ayah yang membuatku langsung berfikir . . . Cinta ? siapa orang yang aku cintai ? . . . Tidak ada satu laki_laki pun yang menarik perhatianku , semua sama . . . Tidak seperti ayah .
" Kenapa ayah bertanya seperti itu ? " . Aku bertanya balik kepada ayah yang membuat ayah berfikir sedikit .
" Hmmm . . . Karena ayah ingin tahu laki_laki siapa yang membuat anak kesayangan ayah ini jatuh cinta dan ayah juga ingin tahu dia baik atau tidak untukmu " .  Ayah mengecup keningku dan setelah itu mengarahkan pendangannya ke depan jauh diujung laut yang langitnya kini mulai menggelap .
" Kenapa ayah harus tahu ? " . Ayah diam cukup lama . . . Dan akhirnya ayah menjawab juga .
" Kamu kan tahu ayah sudah semakin tua . . . Ayah hanya ingin memastikan sebelum ayah pergi . . . kamu sudah ada yang melindungi dan itu lebih dari ayah " . Ayah tersenyum dan tangannya memeluk pundak belakangku .
" Ayah sudah menjadi lebih dari yang aku inginkan . . . Dan sekarang aku anak ayah bukan seperti senja kecil dulu lagi . . . Aku sudah besar ayah , sebentar lagi umurku genap 17 tahun . . . Aku sudah bisa melindungi diriku sendiri . . . Sekarang giliran waktunya senja yang melindungi ayah " . Aku memeluk ayah dengan sepenuh kasih yang ku miliki . . . Dan disitu air mataku menetes . . . Aku menangis dipelukan ayah . . . Aku mencintai ayah . . . Aku tidak ingin kehilangan ayah . . . Ayah adalah senjaku dia yang membuat aku bahagia .
" Sekarang ayah ingin tanya serius ! " . Ayah melepaskan pelukanku dan menghapus air mataku .
" Ayah ingin tanya apa ? " . Aku penasaran dibuat ayah .
" Siapa kekasihmu ? " . Pertanyaan ayah , aku tidak tahu harus menjawab apa .
" Eh . . .Eh . . Tidak . . Tidak aku tidak punya ayah " . Jawabku meringis meragukan seperti dulu aku menunjukan barisan gigiku sedikit .
" Benar ? " . Ayah menunjukan jari telunjuk tangan kanannya didepan wajahku dengan wajah yang sedikit menahan senyum .
" Benar ayah ! " . Aku memberikan empat jari kepada ayah . . . Dua jari dari tangan kanan dan dua jari lagi dari tangan kiri .
" Bagaimana jika ayah carikan kekasih untukmu " . Ayah berlari kecil diatas dermaga dan tentunya untuk menghangatkan suasana .
" Hah . . . Apa . . Tidak ayah tidak aku ingin mencari kekasih sendiri " . Aku mengejar ayah .
" Tidak . . Tidak ayah akan carikan " . Ayah berlari kecil menggodaku .
" Jangan . . Ayah . . Aku akan mencari sendiri " . Aku masih tetap mengejar ayah dan langit pun kini sudah gelap . . .  Tidak ada alasan lagi untuk kita berdua masih tetap berada disini . . . Kita pun pulang .
Dan kekasih . . . Bagiku itu sangat mustahil untuk aku miliki . . . Aku hanya gadis kaku tanpa senyuman yang mereka kenal . Mana mungkin laki_laki menyukaiku bahkan menginginkanku itu sangat jauh dalam bayanganku . . .Yang mereka sukai hanya gadis cantik dan ceria seperti yang lainnya .
Hari pun berganti dengan leluasanya tanpa peduli cerita_cerita yang terukir setiap detiknya . Sekarang ayah semakin sibuk dengan pekerjaanya beriringan dengan pangkatnya yang naik dikantor tempatnya bekerja . . . . Ayah hanya mempunyai waktu terbatas untuk melihat senja bersamaku sisanya dia habiskan untuk bekerja . Namun aku tetap setia setiap sore . . . Walaupun sekarang ayah sedikit berubah . . . tetapi alam semakin riang berteman denganku dan aku pun semakin terbuai bahagia dibuat mereka  .
Seperti pagi ini , aku berangkat sekolah diantar oleh ayah . . . Sekalian dengan ayah berangkat bekerja karena memang searah .
" Sudah sampai sayang " . Ayah menghentikan mobilnya .
" Iyah ayah . . . Aku berangkat ! " . Aku mencium tangan ayah dan membuka pintu mobil .
" Ayah berangkat sayang " . Ayah melambaikan tangannya dan menutup pintu . . . Aku berdiri disini melihat mobil ayah yang pergi perlahan sampai mobil ayah tidak terlihat lagi menghilang . Aku masih ingat perkataan ayah 25 menit yang lalu setelah sarapan . . . " Ayah lembur hari ini , jadi tidak bisa menemanimu melihat senja sayang " . Lagi_lagi ayah begini . . . Ayah lembur ! Membuat langkahku seperti tidak mempunyai arti . . . . Aku menjelajahi waktu seperti biasa , sendiri ditemani buku_buku tentang senja yang membosankan . . . . . Aku adalah gadis yang berpenampilan ulung dengan gaya rambut yang selalu aku geraikan sampai menjuntai ke bawah punggung sedikit , poni yang menghiasi wajahku aku biarkan sedikit memanjang agar menutupi dahiku yang sedikit lebar terlihat . Dengan sikapku yang dingin , kaku dan tanpa senyum sekalipun membuatku tidak memiliki teman sedari kecil . . . Namun sungguh berbeda ketika aku berada ditengah_tengah tenangnya suasana senja . . . . Aku bagai putri cantik yang selalu ceria dengan segala kehidupanku yang terasa sangat sempurna .
Hari ini berlalu cukup lama , aku membuang waktuku dengan hanya membaca , mengingat , memperhatikan anak_anak lain tertawa dan hanya sendiri aku melakukannya . Tetapi aku suka dengan kehidupanku . . . Aku bahagia dengan caraku tanpa aku harus membagikannya dengan orang lain . Karena ayah lembur dikantor , aku pulang sendiri menggunakan angkutan umum . . . Aku sudah biasa berada dikendaraan yang panas , penuh dengan orang_orang dan tidak mengenakan seperti ini . . . Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai dirumahku hanya beberapa menit saja dari sekolah . . .  Setelah sampai didepan rumah . . . Aku langsung mengambil sepedaku tanpa mengganti bajuku dan menaikinya . . . Cepat dan penuh tenaga aku mengendarainya . Berharap aku sampai lebih awal sebelum senja datang menghapus sore . . .  Aku meletakkan sepedaku ditempat biasa tepat dipintu dermaga . . . Aku melihat jauh ke  laut dan berkata dalam hati . . . . Senja memang dalam hati ! .  Namun ditempat itu . . . Ada seseorang disana . . . Dia laki_laki , umurnya terlihat sama sepertiku namun badannya sedikit melebihiku , dia  berdiri diatas dermaga . . . Dengan mata yang memandang jauh namum terlihat lebih dekat dengan laut . . . Aku mencoba mendekatinya perlahan tanpa dia sadar aku semakin dekat dengannya .
" Kamu siapa ? " . Aku beranikan diri bertanya kepadanya . . . Dia mendengar dan menoleh ke arahku .
" Kamu siapa ? " . Dia bertanya balik dengan tatapannya yang tajam memandangku . . . . Dan aku melangkah mundur sedikit menjauhinya .
" Aku senja . . . Kamu pergi dari sini , ini tempatku ! " . Dia menatapku tanpa senyum pun yang membuatku berusaha menyembunyikan rasa ini . . . Iyah rasa takut yang kini sudah barada diubun_ubunku .
" Apakah tempat ini milikmu ? " . Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan langkah yang masih tetap sama . . . perlahan mundur menjauhinya tetapi dia semakin mendekatiku perlahan seirama dengan langkah kakiku .
" Bukan ! Terus kenapa kamu mengusirku ? Ini tempat umum semua orang berhak berada disini sepuasnya termasuk kamu dan aku . . . Ini milik semua orang bukan milik kamu senja " . Dia menatapku tajam , dalam hati aku takut dengannya . . . Dia terlihat tidak seperti ayah yang hangat . . . Dia kaku sepertiku . . . Sekarang dia semakin dekat dihadapanku . . . Aku yang semakin terpojok diposisiku tidak bisa leluasa melangkah untuk bisa lari dari hadapannya   .
" Tapi semua orang disini tahu . . . Ini tempatku biasa bersama ayah untuk melihat senja " . Aku berusaha menutupi rasa takutku . . . Dengan menatapnya dengan pandangan yang tajam pula . . . . Aku mencoba mendorong badannya dengan sekuat tenagaku . . . Namun sekuat apa pun aku dia masih tetap labih kuat , tetapi dia terdiam dihadapanku memandangku tidak menghiraukan apa yang aku lakukan terhadapnya . . . . . Dia semakin dekat dan lebih dekat memandangiku . . . Aku tidak bisa menghindar diam ditempat karena memang kecil ruangan yang dia berikan untukku . . . Dia sedikit menjauhkan posisi wajahnya dari wajahku dan dia terdiam seperti ada yang ingin dia ingat dan mengatakannya kepadaku , tatapannya berubah menjadi layu penuh harapan .
" Kamu gadis kecil yang lemparannya dulu meleset ke arahku kan ? Kamu senja . . . ingat ! " . Dia tersenyum . . . Namun perkataanya membuatku berfikir dan rasa takut itu berubah menjadi rasa ingin tahu . . . . Aku penasaran padanya . Aku mencoba memutar waktu , mengingat apa saja yang pernah aku lalui disini . . . Salah satunya seperti yang dia katakan tadi . Beberapa menit aku memutar waktu dan yang akhirnya aku menemukan satu titik yang utuh dan tepat aku rasa  .
" Kumbang ! Benarkah kamu kumbang ? " . Akhirnya aku mengingatnya .
" Iyah . . . Aku kumbang " . Dia menyulurkan tangannya kepadaku .
" Aku senja " . Aku mendekatinya dan menyambut tangannya . Dan kami berdua tersenyum bersama dengan suasana senja yang semakin tenang dan damai .
" Kamu suka senja ? " . Dia merubah posisinya . . . Matanya menatap teduh ke langit senja yang ketika itu warnanya layu memudar .
" Iyah . . . Aku menyukainya , apakah kamu menyukainya juga ? " . Aku melangkah lebih dekat dengannya . . . Berada disampingnya dan sama_sama menatap langit senja yang layu .
" Tidak , biasa saja . . . Namun suasananya membuat aku suka tenang dan damai , terus apa yang membuat kamu suka senja " . Dia bertanya kembali dihiasi dengan senyuman diwajahnya  .
" Entahlah aku tidak tahu . . . Ayah yang memperkenalkanku pada senja , awalnya aku tidak tahu . . . Namun lama_kelamaan aku menikmatinya dan sekarang aku menyukainya . . . Karena senja lah yang telah menghiasi kebahagiaanku penuh hangat " . Jawabku penuh semangat , dan aku meliriknya sebentar dan dia tersenyum untukku .
" Wow hebat . . . Terus apa yang membuat ayahmu menyukai senja ? " . Pertanyaan itu belum aku ketahui jawabannya . . . Aku lupa untuk menanyakan lagi kepada ayah . . . Dan nanti kapan waktunya tiba aku akan menyakannya lagi . . . Dan ayah harus menjawabnya . Sekarang aku hanya ingin menikmati suasana yang ada didepanku . . . Bukan untuk penasaran terhadap hal seperti itu kepada ayah .
" Kok diam seperti itu ? " . Dia bertanya lagi dengan penuh penasaran .
" Eh . . Eh . . Aku tidak tahu " . Jawabku ragu sambil menggelengkan kepalaku .
" Oh . . . Aku juga minta maaf aku lancang " . Dia memasang wajah bersalah .
" Tidak . . . Tidak apa_apa " . Sedikit kaku rasanya untuk menjawab ini .
" Oh iyah . . . " . Kemudian hening . . . Hanya saling lempar senyum tiada arti , kaku . . . Tidak karuan .
" Eeehhhhh . . . Boleh aku ke sini lagi nanti untuk melihat senja ? " . Aku seperti melihat cahaya pada matanya . . . Tatapannya yang semakin terasa bersahabat untukku . . . Dan aku ingin menjadi lebih dekat dengannya  .
" Boleh . . . Setiap hari juga tidak apa_apa " . Dia melihatku lalu dia tersenyum hangat .
"Sungguh ? " . Dia memastikan kembali . . . Aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai tanda setuju . Kita berdua pun saling melempar pandangan . . . Dan kemudian tertawa bersama . Hari semakin gelap . . . Senja mulai berlari perlahan menjauhi peraduannya .
" Oh sudah semakin malam . . . Aku harus pulang " . Aku berlari kecil diatas dermaga . . . Namun dia tetap diam dengan apa yang aku lakukan . Mungkin dia melihat pundakku semakin mejauh dari belakang dan aku berharap . . . Hanya harapanku ! Mana mungkin dia akan memanggilku dan mengatakan sesuatu kepadaku . . . Iyah sekali lagi hanya harapanku yang berlebih .
" Senja " . Aku berhenti dari gerakan kakiku yang melangkah_langkah kecil . . . Dia , dia benar memanggilku . Aku menoleh ke arahnya dan menunggunya disana . . . Menunggu dia untuk mengatakan sesuatu kepadaku .
" Besok . . . Aku menunggumu disini " . Dia mengatakannya aku tidak mungkin salah dengar . . . Dia akan menungguku disini , dengan tersenyum lepas dia mengatakannya seperti beban berat yang sudah lama dia pikul dipundaknya dan sekarang baru dia lepaskan dihadapanku . Aku hanya mengangguk mengerti lalu aku tersenyum untuknya . Aku berlalu dari pandangannya . . . Seperti rasa yang lebih yang diberikan senja hari ini . . . Dia , laki_laki kecil yang dulu aku temui sekarang dia kembali tersenyum untuk warna senja yang baru . . . Aku tidak sabar lagi menunggu pagi lalu menanti senja . . . Aku ingin melihat senyumnya memang tidak terasa manis dihadapanku tetapi bagiku itu terlihat lebih klasik dari yang lainnya . . . Sederhana tapi unik dan yang terpenting aku menyukai itu . Dalam hidupku aku ingin mecari rasa  yang belum pernah aku rasakan selama ini , rasa bahagia selain bersama ayah dan suasana senja disini . . . . Sepertinya itu satu hal yang seru atau petualangan yang menarik  yang harus aku mencobanya dan aku ingin merasakannya bersama dia . . . . Kumbang teman baruku ! .

Jumat, 01 Januari 2016

Senja

Aku datang lagi ke tempat dimana semua kebahagiaanku pernah terjadi disini , semua masih sama seperti dulu . . . Dengan suasana senja yang hangat yang masih bisa aku rasakan sore ini . . . . Pantai dengan pasir putihnya dan ombak yang melambai_lambai bagaikan menyambutku datang lagi ke tempat ini . . .  Ditempat ini dulu aku pernah tertawa dengan riangnya , merasakan hal_hal yang belum pernah aku rasakan , melakukan hal idiot dan tentunya merasakan ketenangan hangatnya jiwa . Senyuman tulus yang mereka berikan membuat hidupku semakin sempurna . . . . Namun semua menghilang begitu saja ketika aku membukakan mata . Mereka berdua meninggalkanku sendiri untuk kehidupan yang baru dan senyuman yang baru . . . Jika Tuhan ingin tahu aku tidak menginginkan ini . . . Aku ingin senyum mereka yang dulu bukan senyum sekarang yang aku lihat dan rasakan saat ini . . .  Semua terjadi begitu saja tanpa aku rasakan alurnya berjalan detik demi detik hingga akhirnya  . . . Kini aku sadar semua hari indah itu hanya menjadi sebuah cerita dalam hidupku dan yang harus aku lakukan sekarang merelakan semua pergi dan memulai kehidupan yang baru . . . . . . Hari_hari indah itu aku rasakan saat aku mulai mengenal senja untuk menghapus lukaku .

PART I .
Senja , Bagiku senja seperti ukiran warna yang membentuk hangatnya suasana hati . Entah sejak kapan aku mulai menyukainya ? Yang jelas luka itu tidak akan pernah aku lupa . Luka yang membuat hidupku berubah jauh , Aku yang tidak lagi mempunyai teman bahkan mimpi tidak pernah terpikirkan sama sekali , semua orang menjauhiku karena aku yang berubah menjadi gadis kecil yang kaku dan tanpa senyum bersahabat lagi , tetapi ayahku . . . . Aku menyukainya , dialah sosok yang memperkenalkanku pada suasana senja . Disitu aku merasakan ketenangan , aku bisa menangis sepuas ku bahkan berteriak sekuat ku . Ayahku lah yang selalu mengajak ku ke pantai setiap akan datangnya senja hari , setiap hari . . .  hingga aku hafal warna apa saja yang diukir langit pada senja hari . Bahkan kami mempunyai hari kebesaran untuk menikmati suasana senja sepuasnya ialah malam minggu seperti malam ini . Kami berdua sangat kompak . . . aku dan ayah memakai baju yang sama , warna yang sama , kacamata sama dan semuanya sama . Aku pernah sekali bertanya kepada ayah .
" Ayah kenapa setiap hari ayah selalu mengajak ku untuk melihat sore hari ? " . Ayah yang duduk disamping ku hanya terdiam , tetapi kemudian dia tersenyum .
" Karena untuk menikmati suasana senja sayang " . Dia masih dalam posisinya yang sama duduk dan menghadap ke ujung laut .
" Ayah suka senja ? " . Aku bertanya lagi .
" Iyah , makanya ayah selalu mengajakmu ke sini setiap sore hari karena untuk menikmati suasanya yang tenang , kamu bisa mengeluarkan semua apa yang ada didalam hatimu disini dan disinilah teman sejatimu bahkan kebahagiaan hatimu ada disini sayang " . Ayah melihat ke arahku dan mengusap rambutku sambil tersenyum layaknya suasana senja yang sore ini ku nikmati hangat dan tenang .
" Makanya itu ayah memberi namaku senja ? , agar aku tenang dan tidak nakal ! " Aku tersenyum polos .
" Haha . . .  itu anak ayah pintar " . Ayah mencubit daguku .
" Haha . . Boleh aku tau
alasannya kenapa ayah suka senja ? " . Tanyaku yang membuat ayah langsung berhenti tertawa cukup lama yang kemudian menjawab dengan sedikit ada yang disembunyikan .
" Hmmmm . . . Jika kamu sudah besar nanti ayah akan beri tahu alasannya mengapa ayah suka senja " Jawab ayah dengan senyuman tipis .
" Kenapa tidak sekarang saja ayah . .   Aku sudah cukup besar . . . umurku sudah 10 tahun " . Paksaku dengan sedikit manja .
" Nanti . . . ayah bilang nanti iyah nanti . . . " Ayah menggelengkan kepalanya sambil menggodaku .
" Aaaahhhaahh . . . ayah sekarang saja " Aku merangkul pundak ayah .
" Tidak . . . Ayo kita pulang sudah semakin malam . . . ! " . Ayah berdiri dan sedikit berlari kecil .
" Aaaahhhaah . . . Ayah jangan tinggalin aku " . Aku berlari mengejar ayah .
Ayah suka senja dan aku juga , Ayah suka menikmatinya dan aku juga dan  Ayah lah adalah senjaku .
Namun , setelah hilangnya senja berganti malam dan kemudian datang lah pagi hidupku kembali . . .  tidak ada yang berubah , hangat seperti senja pada sore itu . . . Aku masih sangat ingat luka itu . Tapi pagi ini . . .  Aku harus datang ke sekolah , belajar di sekolah tanpa seorang teman satu pun hanya buku_buku tentang senja yang ayah belikan untuk menemaniku sepanjang waktu dengan bosannya .
" Ah . . . Semua gara_gara ibu , aku benci ibu , kenapa ibu harus pergi meninggalkan aku demi laki_laki kaya itu , aku benci ibu . . . ! " . Aku hempaskan semua bukuku ke lantai . Yang membuat semua teman_teman ku berlari keluar ketakutan .
Aku duduk kembali ke tempat duduk dan ku tenangkan diri . . . Lalu aku membereskan semua satu persatu . Tidak ada satu teman pun dikelas . . . Mungkin mereka seperti biasa akan melaporkanku kepada wali kelas karena melihat aksiku yang mereka pikir aku ini gila . Aku menundukan kepalaku ke meja dan seketika itu . . .  aku ingin menangis , kenapa aku harus merasakan ini . Kenapa harus aku ? Kenapa ibu harus meninggalkan aku ayah ? .
Tidak berapa lama , aku mendengar pintu yang membuka dan langkahan kaki yang perlahan mendekatiku . . . Dan kemudian sosok itu duduk disampingku , aku merasakan kehadirannya  disini . . . Hingga tangannya menyapu lembut rambutku .
" Kamu kenapa senja ? Ceritakan  kepada ibu ! " . Suara ibu guru lembut . Aku mengangkat kepalaku dan menggelengkannya , namun mataku yang sudah terlanjur basah tidak bisa membohonginya .
" Aku baik_baik saja bu . . . " . Jawabku pelan .
" Terus kenapa kamu menangis dan semua teman_temanmu menjadi ketakutan ? " . Tanya ibu guru lirih .
" Tidak bu , aku tidak apa_apa . . . " Aku menghapus air mataku dan mencoba tersenyum .
" Percaya aku bu , aku dalam keadaan baik " . Aku mencoba menyakinkan dan tersenyum lagi walau sedikit kaku . Ibu guru diam cukup lama dan hanya memandangiku .
" Kamu yakin ! " . Ibu guru bertanya lagi dengan sedikit keraguan .
Aku mengangguk dan masih sama tetap tersenyum .
" Aku yakin " . Jawabku yang cukup membuatnya tersenyum .
" Iyah sudah ibu tidak memaksa . . . Ibu pastikan kamu baik_baik saja , Mari kita lanjutkan pelajarannya " Ibu guru mengusap rambutku dan berdiri melangkah menuju mejanya . Disusul teman_teman yang berlarian duduk ke tempat mejanya masing_masing , setelah yang mereka lakukan mengintip aku dan ibu guru dari balik jendela .
Aku mencoba untuk tetap tersenyum namun jauh dari dalam hati , aku tidak kuat , aku masih sama seperti mereka . . .  kecil dan tidak mengerti . . . Aku juga ingin tertawa dan bermain dengan banyak teman seperti mereka saat ini . Aku sungguh tidak kuat hari ini , aku ingin pulang , dan melihat warna senja , aku ingin ceritakan semuanya jika semua ini karena ibu , ibu yang membuat semua berubah , aku benci ibu dan aku sangat membenci ibu dan aku berharap aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan ibu .
Ayah sudah menungguku didepan gerbang . . . Aku langsung berjalan pelan menuju ke arahnya , aku mencoba tersenyum seceria biasanya agar ayah tidak tahu apa yang telah terjadi .
" Hai ayah . . . ! " . Aku tersenyum pelan , namun ayah tidak menjawab seperti biasanya , ayah hanya diam melihatku .
Aku membuka pintu mobil dan duduk dijok depan sebelah ayah . Tetapi memang aku tidak bisa membohongi ayah . . . ayah yang sudah mengenali aku sedari kecil . Segala gerak_gerik ku pun untuk menyembunyikan sesuatu ayah pasti akan tahu . . . Memang ayah lebih dari seorang ayah , ayah ibuku , makanya aku tidak membutuhkan kehadiran sosok ibu dalam hidupku . . . hanya untuk memasak makanan kesukaanku , menenangkanku saat aku tertekan dengan lembut , atau menghiburku agar aku bisa berhenti menangis . . . Semua itu ayah bisa melakukannya , karena semua hal tentang kekosongan seorang ibu dalam hidupku , sudah terpenuhi dalam diri ayah dan aku tidak ingin kehilangan dirinya .
Ayah masih sama tetap diam melihat ke depan . . . Aku tahu maksud ayah untuk melakukan hal ini . . . Hal ini karena ayah ingin aku ceritakan semua apa yang telah terjadi , tetapi mana mungkin aku ceritakan . . . Kejadian ini berkaitan dengan ibu , ayah tahu aku benci ibu dan ayah membenci hal itu . . . Ayah akan marah ketika aku menyalahkan ibu . Ayah akan diam saja jika ayah marah sampai aku meminta maaf dan aku harus berjanji agar tidak membenci ibu terus . . . Dan aku tidak mau untuk itu . Ayah masih sama . . . tetap diam memandang anak_anak lain yang berjalan pulang dengan kedua tangannya yang masih tetap memegang kemudi . Aku yang semakin bingung  tidak mungkin aku ceritakan semuanya . . . Ayah akan marah jika ayah tahu .
" Ayaaaaah . . . Ayo lah pulang ! " . Rengikku dengan sedikit kesal .
Ayah memandangku sekarang dan posisinya duduknya sedikit dihadapkan ke arahku .
" Kamu kenapa wajahnya layu begitu . . . Seperti langit senja yang habis kehujanan ? " . Tanya ayah , yang membuatku semakin tertekan dalam posisiku .
" Aku tidak apa_apa ayah . . . Aku masih ceria seperti senja sore itu , ini lihat wajahku aku tersenyum kan ! " . Aku mencoba tersenyum dengan memperlihatkan barisan kecil_kecil gigiku walau itu terlihat aneh , tapi mampu membuat ayah tersenyum .
" Yakin kamu tidak apa_apa sayang ? " . Tanya ayah lagi untuk memastikan aku memang tidak apa_apa walau mata ayah tidak bisa membohongiku ayah ragu denganku .
" Iyah ayah . . . Aku tidak apa_apa , percaya sama aku ayah aku janji " .
Aku tersenyum lagi untuk memastikan ayah agar tidak ragu .
" Janji ! " . Ayah memastikanku lagi dengan mengulurkan jari kelingkingnya .
" Janji ayah " . Aku mengaitkan jari kelingkingku dengan jari kelingking ayah dan kami berdua tertawa .
" Ayah katanya ayah janji , ayah akan mengajariku naik sepeda baru dipantai bersama suasana senja . . . Ayo ayah , ayah tidak lupa kan ? " . Aku menagih janji ayah dengan melepaskan jari kelingkingku .
" Okeh . . . Ayah tidak lupa sayang " . Ayah berganti posisi sekarang menghadap ke depan .
" Ayo makanya . . . Pulang ayaaahh nanti keburu malam " . Rengikku lagi dengan sedikit manja .
" Ayo mari kita pulang " . Ayah menyalahkan mesin mobilnya dan pulang .
Sampai dirumah , aku langsung turun dari mobil dan segera masuk untuk mengganti pakaianku . . . Sedangkan ayah menungguku diluar dan juga mengambil sepeda baruku untuk dibawah ke pantai .
Perjalan ke pantai tidak membutuhkan waktu lama karena memang ayah memilih lokasi rumah yang dekat dengan pantai .
Aku berlari keluar mobil menuju pasir pantai yang putih , aku bahagia dibuatnya sungguh bahagia sangat bahagia .
" Senjaaaaaa . . . Aku akan bisa naik sepeda , nanti aku akan naik sepeda dengan ayah kesini " . Aku mengambil segenggam pasir putih dan melemparkannya ke laut .
" Senja sini sayang ! " . Ayah melambaikan tangannya dan menyuruhku untuk ke tempatnya sekarang .
" Sini katanya akan belajar sepeda jangan disitu nanti jatuh ke laut " .
Ayah menarik tanganku pelan .
Aku menaiki sepeda yang dipegangi ayah .
" Ayah pegangi iyah aku takut " . Aku pastikan ayah untuk memeganginya .
" Iyah ayah pasti pegangin , jangan takut sayang . . . Kan ada ayah ! " .Ayah menenangkanku .
Aku menarik napas , agar sedikit tenang .
" Ayo sayang pelan_pelan , ayo_ayo ayah pegangin jangan takut " . Aku mulai mengayuhkan sepedaku dengan tangan ayah yang memegangi dari belakang .
" Ayo sayang terus_terus . . . Kamu bisa_bisa " . Ayah menyemangatiku .
Aku terus mengayuhkan sepedaku , terus dan terus . . . Mengikuti arahan ayah , hingga aku terjatuh_jatuh pun aku tidak peduli selama ada ayah disitu aku akan terlindungi . Butuh waktu lama untuk aku bisa mengendarai sepeda . . . Dengan arah yang hanya berputar_putar , tempat yang berpasir dan yang paling parah kakiku berdarah karena jatuh . Tapi aku tetap tidak menyerah aku ingin bisa . . . Senja pun kini berganti malam , ada bulan dan bintang disana . . . Aku melihatnya dari bawah dan aku semakin semangat . Ayah juga tidak kalah semangat dia tetap terus mengarahkanku agar aku dalam posisi seimbang dan yang akhirnya membuahkan hasil .
" Aku bisaaaaaa ayah . . . Aku bisa lihat ayah aku bisa " . Aku berteriak berlari dan turun dari sepeda untuk memeluk ayah .
" Iyah sayang ayah lihat . . . Kamu bisa . . . Anak ayah memang hebat " . Ayah menyambut pelukanku , dan mengangkatku hingga aku terasa terbang .
Aku begitu bahagia sangat bahagia . . . . Semua masalah seperti menghilang dari bayanganku . Kejadian disekolah hingga sosok ibu yang ku benci semuanya hilang . . .  Aku bahagia begitu pun ayah terlihat bahagai diwajahnya .
Satu hal kecil yang membuatku bahagai adalah berada dipelukan ayah , tertawa bersama ayah dan sampai melakukan satu hal idiot sekalipun itu bahagai untukku asalkan aku melakukannya bersama ayah .
" Mulai sekarang kita ke pantai mengendarai sepeda bersama okeh . . . Kamu setuju sayang " . Ayah menurunkanku
Aku mengangguk tidak sabar untuk melakukannya .
" Iyah ayah aku setuju " . Aku tersenyum dan ayah mengikutinya .
" Sudah malam ayo kita pulang " . Ayah mengambil sepedaku untuk dimasukanku ke bagasi mobil dan kita pulang .
Setiap hari aku dan ayah bermain sepeda ke pantai , setiap hari . . . . Seperti tidak ada lagi hal yang dapat menghalangi ayah dan aku untuk bahagia berdua bersama senja . . .  Berputar_putar dipasir yang putih , jatuh , berlari_berlari , bermain bola , membakar ikan , hujan_hujanan dan berbaring diatas pasir putih serta tidak boleh ketinggalan tentang hal ini memandang langit senja dan menikmati suasanya . Hal_hal kecil itu yang membuat kita berdua bahagia bahkan lebih dari bahagia dan kita berdua tidak akan pernah berhenti untuk melakukannya . Seperti kemarin , aku dan ayah akan tetap berada disini , hari ini hingga kita berdua tidak mempunyai alasan lagi untuk datang ke tempat ini . . . . . Dan seperti bola yang berada ditangan ayah bundar tidak mempunyai tepi hingga kemudian nanti dengan sendirinya akan mengempis lalu akan hilang terbuang .
" Ayah tendang bolanya cepat ! " . Ayah mencoba untuk menendangnya ke arahku yang sudah siap untuk menangkapnya .
" Ini bolanya coba tangkap sayang " . Ayah menendangnya dan tertendang jauh kebelakang dari posisiku .
" Ayah jangan keras_keras nendangnya kaki ku kan kecil ayah . . . . " . Aku berlari untuk mengambil bolanya .
" Ayo sayang lemparkan ke ayah jangan ditendang " . Perintah ayah yang dengan sigap aku mengikutinya .
" Ini ayah bolanya . . . . " . Aku melemparnya ke arah ayah tetapi meleset ke arah anak laki_laki yang berdiri di tepi jalan itu . Usianya sepertinya sama seperti aku . . . . Dengan baju berwarna biru seperti yang aku dan ayah kenakan sekarang . Anak itu langsung mengambil bola yang mengenai tangannya karena lemparanku . Ayah langsung menyuruhku untuk mengambil bola dan meminta maaf kepada anak laki_laki itu .
" Sayang ambil bolanya dan meminta maaf " . Suruh ayah mendekatiku .
" Ayah saja " . Aku menolak dengan wajah yang sedikit ketakutan .
" Kenapa ayah saja . . . Siapa yang menendang ? itu harus bertanggung jawab " . Jawab ayah dengan suara sedikit menekan .
" Tapi ayah . . . ! " . Aku belum selesai bicara ayah langsung memotong .
" Ayo sayang . . . Sebelum anak laki_laki itu datang kesini " .
Aku yang sudah ditekan ayah bingung akan berbuat apa lagi . . . Ayah tahu aku ketakutan tetapi ayah juga lebih tahu aku harus bersikap tanggung jawab . Aku takut jika anak laki_laki itu akan berlari ketakutan jika aku mendekatinya seperti semua teman_temanku disekolah . Tetapi aku akan mencobanya dan mengambil bolaku yang sekarang berada ditangannya .
Aku berjalan menuju anak laki_laki itu , dengan sedikit berlari sekarang aku berada didepannya  .
" Ini bolamu . . . Lain kali kalau melempar dengan lemparan yang pas agar tidak meleset ke arah ku " . Katanya dengan tersenyum lalu aku mengambil bolaku dari tangannya .
" Sayang . . . Ayo kita pulang sudah sore " . Suara perempuan didalam mobil yang melambaikan tangannya kepada anak laki_laki didepanku .
" Iyah ibu . . . " . Anak laki_laki itu berlari menuju mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh perempuan itu .
" Nama kamu siapa ? " . Tanyaku spontan yang membuatnya berhenti lalu menghadap ke arahku .
" Kumbang . . . " . Jawabnya singkat dan kemudian berlari dan memasuki mobil .
Mobil itu melaju perlahan didepanku , yang lama_lama ke lamaan jauh lalu menghilang . Aku yang hanya terdiam mengingat senyumnya , untuk pertama kalinya seorang anak tersenyum untukku selain ayah dan senja hari . Anak laki_laki itu tidak takut kepadaku walau aku tidak tersenyum untuknya . . . Dan ibunya terlihat seperti ayah yang menyayangi anaknya .
" Sayang apa yang kamu lihat ? Anaknya kan sudah pergi . . . Mana bolanya . . .  Ayo kita lanjutkan mainnya " . Ayah menepuk pundaku dan mengambil bola dari tanganku yang kemudian berjalan menuju ke tengah pasir putih untuk bermain lagi .
" Kumbang . . . Akan selalu aku ingat kumbang " . Aku berbicara pelan sambil tersenyum . . . Nama itu memang akan selalu ku ingat kumbang ! .
" Iyah ayah . . . Aku main " . Aku berteriak dan berlari lagi menuju ke tengah pasir putih untuk bermain bola bersama ayah .
Diluar sunyi menyapu malam ini . . . Hanya suara hujan yang tenang tanpa petir menganggu . Aku sedang memilah_milah buku yang dibelikan ayah didepan televisi , sedangkan ayah sedang membuat nasi goreng kesukaan kami berdua didapur belakang .
Aku membereskan semua buku_buku yang berantakan diatas sofa tempatku duduk dan aku pisahkan yang menurutku bagus ceritanya . Ada tiga buku yang aku tidak suka jalan ceritanya dan aku akan menyuruh ayah untuk membuangnya atau mungkin membakarnya .
" Sudah siap sayang nasi gorengnya . . . . Mari kita makan " . Ayah membawa dua piring nasi goreng ditangannya dan meletakannya dimeja dekat sofa .
" Lagi ngapain sayang ? Cepat makan sudah siap nasinya ! " . Ayah menuangkan segelas air putih untukku .
" Ayah ini ada tiga buku tentang senja yang ayah belikan untukku , Buang saja ayah jika perlu ayah harus membakarnya . . .  aku tidak suka jalan ceritanya " . Aku memberikan buku_buku tersebut kepada ayah .
" Kenapa harus dibuang sayang . . . Ini semua kan tentang senja " . Ayah mengambil buku_buku tersebut dari sofa .
" Aku tidak suka jalan ceritanya ayah . . . Aku tidak suka " . Jawabku dengan sedikit kesal , kenapa ayah harus bertanya lagi kan aku sudah jelaskan .
" Kenapa tidak suka . . . Ayah baca bagus ceritanya , makanya ayah membelinya untukmu sayang " . Ayah mengusap rambutku .
" Tidak bagus ayah aku tidak suka . . . Aku tidak suka cerita yang menceritakkan tentang baiknya seorang ibu " . Perkataanku membuat ayah berpikir dan melepaskan tangannya dari rambutku .
" Bukannya semua ibu itu baik ? Ibu kamu juga baik " . Kata ayah sambil membuka  salah satu dari tiga buku itu .
Aku berpikir sebentar . . . . Apa yang aku katakan pasti akan membuat ayah marah .
" Tidak ayah . . . Pokoknya aku tidak suka , ibuku tidak baik tidak seperti ibu_ibu mereka yang mereka ceritakan . . . Ibuku jahat ayah aku membencinya " . Aku membuang buku_buku tersebut ke lantai termasuk buku yang dipegang ayah , yang membuat ayah langsung duduk disampingku dan mengusap rambutku dengan lembut .
" Tidak sayang kamu salah . . . Ibumu baik , ibumu sayang kepada kamu sayang sekali lebih dari ayah " . Kata ayah pelan sambil memgecup keningku .
" Tidak ayah ibu tidak sayang kepadaku , kalau ibu sayang ibu tidak mungkin mengingkari janjinya dan meninggalkanku sekarang . . . Aku benci ibu ayah aku benci " . Aku berteriak berdiri menghadap ayah yang duduk disofa dan aku berlari kekamarku dan menguncinya .
Apa yang aku katakan kepada ayah semua yang membayangiku setiap hari bahkan aku tidak bisa untuk melupakannya saat aku terbangun dari mimpi .  Aku tidak tahu apa reaksi ayah ketika mendengar itu . . . . . Ayah mungkin tahu sekarang aku menangis dikamar ini , menangis seperti banyak tekanan dalam hidupku .
" Sayang ayo keluar buka pintunya . . . Ayah minta maaf sayang " . Ayah mengetuk pintu yang ku kunci dari dalam namun aku tetap dalam posisiku duduk dibalik pintu dan menangis .
" Sayang jangan diam saja . . . Ayo keluar " . Ayah mencoba untuk membujukku , tetapi aku tetap sama diam dan menangis .
" Sayang ayo lihat senja malam ini . . . . Disana kamu boleh menangis sepuas kamu " . Perkataan ayah yang membuat aku berpikir , senja apakah aku akan bercerita kepadanya jika aku membenci ibu .
" Sayang keluar . . . Nanti keburu malam hujannya kan sudah reda . . . Kita naik sepeda " . Ayah mencoba merayuku agar keluar dan berhenti menangis .
" Beneran ayah . . . " . Tanyaku pelan mungkin ayah mendengarkanku .
" Beneran kita naik sepeda " . Kata ayah dengan nada semangat .
Aku berdiri dan membuka pintu . . . Aku mengusap pipiku yang sudah basah . Aku pasang wajah semangat penuh senyuman aku akan melihat senja malam hari .
" Ckkrekkk . . . " . Ayah sudah siap memelukku dan aku menyambutnya .
" Ayah ayo lihat . . . " . Aku berbisik ditelinga ayah .
" Haha . . . . Kamu kena ! Mana ada senja malam hari " . Ayah mengangkatku seperti biasa .
" Haaaaahahhhh ayah bohong . . . Ayah bohong . . . " . Aku memukul_mukul pundak ayah .
" Haha kamu kena . . . " . Ayah menggodaku .
Dan malam itu , kami berdua tertawa bersama . . . . Ayah menceritakkan semua hal tentang senja hingga aku merasa ngantuk dan aku tertidur pulas dipangkuan ayah .