Aku datang lagi ke tempat dimana semua kebahagiaanku pernah terjadi disini , semua masih sama seperti dulu . . . Dengan suasana senja yang hangat yang masih bisa aku rasakan sore ini . . . . Pantai dengan pasir putihnya dan ombak yang melambai_lambai bagaikan menyambutku datang lagi ke tempat ini . . . Ditempat ini dulu aku pernah tertawa dengan riangnya , merasakan hal_hal yang belum pernah aku rasakan , melakukan hal idiot dan tentunya merasakan ketenangan hangatnya jiwa . Senyuman tulus yang mereka berikan membuat hidupku semakin sempurna . . . . Namun semua menghilang begitu saja ketika aku membukakan mata . Mereka berdua meninggalkanku sendiri untuk kehidupan yang baru dan senyuman yang baru . . . Jika Tuhan ingin tahu aku tidak menginginkan ini . . . Aku ingin senyum mereka yang dulu bukan senyum sekarang yang aku lihat dan rasakan saat ini . . . Semua terjadi begitu saja tanpa aku rasakan alurnya berjalan detik demi detik hingga akhirnya . . . Kini aku sadar semua hari indah itu hanya menjadi sebuah cerita dalam hidupku dan yang harus aku lakukan sekarang merelakan semua pergi dan memulai kehidupan yang baru . . . . . . Hari_hari indah itu aku rasakan saat aku mulai mengenal senja untuk menghapus lukaku .
PART I .
Senja , Bagiku senja seperti ukiran warna yang membentuk hangatnya suasana hati . Entah sejak kapan aku mulai menyukainya ? Yang jelas luka itu tidak akan pernah aku lupa . Luka yang membuat hidupku berubah jauh , Aku yang tidak lagi mempunyai teman bahkan mimpi tidak pernah terpikirkan sama sekali , semua orang menjauhiku karena aku yang berubah menjadi gadis kecil yang kaku dan tanpa senyum bersahabat lagi , tetapi ayahku . . . . Aku menyukainya , dialah sosok yang memperkenalkanku pada suasana senja . Disitu aku merasakan ketenangan , aku bisa menangis sepuas ku bahkan berteriak sekuat ku . Ayahku lah yang selalu mengajak ku ke pantai setiap akan datangnya senja hari , setiap hari . . . hingga aku hafal warna apa saja yang diukir langit pada senja hari . Bahkan kami mempunyai hari kebesaran untuk menikmati suasana senja sepuasnya ialah malam minggu seperti malam ini . Kami berdua sangat kompak . . . aku dan ayah memakai baju yang sama , warna yang sama , kacamata sama dan semuanya sama . Aku pernah sekali bertanya kepada ayah .
" Ayah kenapa setiap hari ayah selalu mengajak ku untuk melihat sore hari ? " . Ayah yang duduk disamping ku hanya terdiam , tetapi kemudian dia tersenyum .
" Karena untuk menikmati suasana senja sayang " . Dia masih dalam posisinya yang sama duduk dan menghadap ke ujung laut .
" Ayah suka senja ? " . Aku bertanya lagi .
" Iyah , makanya ayah selalu mengajakmu ke sini setiap sore hari karena untuk menikmati suasanya yang tenang , kamu bisa mengeluarkan semua apa yang ada didalam hatimu disini dan disinilah teman sejatimu bahkan kebahagiaan hatimu ada disini sayang " . Ayah melihat ke arahku dan mengusap rambutku sambil tersenyum layaknya suasana senja yang sore ini ku nikmati hangat dan tenang .
" Makanya itu ayah memberi namaku senja ? , agar aku tenang dan tidak nakal ! " Aku tersenyum polos .
" Haha . . . itu anak ayah pintar " . Ayah mencubit daguku .
" Haha . . Boleh aku tau
alasannya kenapa ayah suka senja ? " . Tanyaku yang membuat ayah langsung berhenti tertawa cukup lama yang kemudian menjawab dengan sedikit ada yang disembunyikan .
" Hmmmm . . . Jika kamu sudah besar nanti ayah akan beri tahu alasannya mengapa ayah suka senja " Jawab ayah dengan senyuman tipis .
" Kenapa tidak sekarang saja ayah . . Aku sudah cukup besar . . . umurku sudah 10 tahun " . Paksaku dengan sedikit manja .
" Nanti . . . ayah bilang nanti iyah nanti . . . " Ayah menggelengkan kepalanya sambil menggodaku .
" Aaaahhhaahh . . . ayah sekarang saja " Aku merangkul pundak ayah .
" Tidak . . . Ayo kita pulang sudah semakin malam . . . ! " . Ayah berdiri dan sedikit berlari kecil .
" Aaaahhhaah . . . Ayah jangan tinggalin aku " . Aku berlari mengejar ayah .
Ayah suka senja dan aku juga , Ayah suka menikmatinya dan aku juga dan Ayah lah adalah senjaku .
Namun , setelah hilangnya senja berganti malam dan kemudian datang lah pagi hidupku kembali . . . tidak ada yang berubah , hangat seperti senja pada sore itu . . . Aku masih sangat ingat luka itu . Tapi pagi ini . . . Aku harus datang ke sekolah , belajar di sekolah tanpa seorang teman satu pun hanya buku_buku tentang senja yang ayah belikan untuk menemaniku sepanjang waktu dengan bosannya .
" Ah . . . Semua gara_gara ibu , aku benci ibu , kenapa ibu harus pergi meninggalkan aku demi laki_laki kaya itu , aku benci ibu . . . ! " . Aku hempaskan semua bukuku ke lantai . Yang membuat semua teman_teman ku berlari keluar ketakutan .
Aku duduk kembali ke tempat duduk dan ku tenangkan diri . . . Lalu aku membereskan semua satu persatu . Tidak ada satu teman pun dikelas . . . Mungkin mereka seperti biasa akan melaporkanku kepada wali kelas karena melihat aksiku yang mereka pikir aku ini gila . Aku menundukan kepalaku ke meja dan seketika itu . . . aku ingin menangis , kenapa aku harus merasakan ini . Kenapa harus aku ? Kenapa ibu harus meninggalkan aku ayah ? .
Tidak berapa lama , aku mendengar pintu yang membuka dan langkahan kaki yang perlahan mendekatiku . . . Dan kemudian sosok itu duduk disampingku , aku merasakan kehadirannya disini . . . Hingga tangannya menyapu lembut rambutku .
" Kamu kenapa senja ? Ceritakan kepada ibu ! " . Suara ibu guru lembut . Aku mengangkat kepalaku dan menggelengkannya , namun mataku yang sudah terlanjur basah tidak bisa membohonginya .
" Aku baik_baik saja bu . . . " . Jawabku pelan .
" Terus kenapa kamu menangis dan semua teman_temanmu menjadi ketakutan ? " . Tanya ibu guru lirih .
" Tidak bu , aku tidak apa_apa . . . " Aku menghapus air mataku dan mencoba tersenyum .
" Percaya aku bu , aku dalam keadaan baik " . Aku mencoba menyakinkan dan tersenyum lagi walau sedikit kaku . Ibu guru diam cukup lama dan hanya memandangiku .
" Kamu yakin ! " . Ibu guru bertanya lagi dengan sedikit keraguan .
Aku mengangguk dan masih sama tetap tersenyum .
" Aku yakin " . Jawabku yang cukup membuatnya tersenyum .
" Iyah sudah ibu tidak memaksa . . . Ibu pastikan kamu baik_baik saja , Mari kita lanjutkan pelajarannya " Ibu guru mengusap rambutku dan berdiri melangkah menuju mejanya . Disusul teman_teman yang berlarian duduk ke tempat mejanya masing_masing , setelah yang mereka lakukan mengintip aku dan ibu guru dari balik jendela .
Aku mencoba untuk tetap tersenyum namun jauh dari dalam hati , aku tidak kuat , aku masih sama seperti mereka . . . kecil dan tidak mengerti . . . Aku juga ingin tertawa dan bermain dengan banyak teman seperti mereka saat ini . Aku sungguh tidak kuat hari ini , aku ingin pulang , dan melihat warna senja , aku ingin ceritakan semuanya jika semua ini karena ibu , ibu yang membuat semua berubah , aku benci ibu dan aku sangat membenci ibu dan aku berharap aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan ibu .
Ayah sudah menungguku didepan gerbang . . . Aku langsung berjalan pelan menuju ke arahnya , aku mencoba tersenyum seceria biasanya agar ayah tidak tahu apa yang telah terjadi .
" Hai ayah . . . ! " . Aku tersenyum pelan , namun ayah tidak menjawab seperti biasanya , ayah hanya diam melihatku .
Aku membuka pintu mobil dan duduk dijok depan sebelah ayah . Tetapi memang aku tidak bisa membohongi ayah . . . ayah yang sudah mengenali aku sedari kecil . Segala gerak_gerik ku pun untuk menyembunyikan sesuatu ayah pasti akan tahu . . . Memang ayah lebih dari seorang ayah , ayah ibuku , makanya aku tidak membutuhkan kehadiran sosok ibu dalam hidupku . . . hanya untuk memasak makanan kesukaanku , menenangkanku saat aku tertekan dengan lembut , atau menghiburku agar aku bisa berhenti menangis . . . Semua itu ayah bisa melakukannya , karena semua hal tentang kekosongan seorang ibu dalam hidupku , sudah terpenuhi dalam diri ayah dan aku tidak ingin kehilangan dirinya .
Ayah masih sama tetap diam melihat ke depan . . . Aku tahu maksud ayah untuk melakukan hal ini . . . Hal ini karena ayah ingin aku ceritakan semua apa yang telah terjadi , tetapi mana mungkin aku ceritakan . . . Kejadian ini berkaitan dengan ibu , ayah tahu aku benci ibu dan ayah membenci hal itu . . . Ayah akan marah ketika aku menyalahkan ibu . Ayah akan diam saja jika ayah marah sampai aku meminta maaf dan aku harus berjanji agar tidak membenci ibu terus . . . Dan aku tidak mau untuk itu . Ayah masih sama . . . tetap diam memandang anak_anak lain yang berjalan pulang dengan kedua tangannya yang masih tetap memegang kemudi . Aku yang semakin bingung tidak mungkin aku ceritakan semuanya . . . Ayah akan marah jika ayah tahu .
" Ayaaaaah . . . Ayo lah pulang ! " . Rengikku dengan sedikit kesal .
Ayah memandangku sekarang dan posisinya duduknya sedikit dihadapkan ke arahku .
" Kamu kenapa wajahnya layu begitu . . . Seperti langit senja yang habis kehujanan ? " . Tanya ayah , yang membuatku semakin tertekan dalam posisiku .
" Aku tidak apa_apa ayah . . . Aku masih ceria seperti senja sore itu , ini lihat wajahku aku tersenyum kan ! " . Aku mencoba tersenyum dengan memperlihatkan barisan kecil_kecil gigiku walau itu terlihat aneh , tapi mampu membuat ayah tersenyum .
" Yakin kamu tidak apa_apa sayang ? " . Tanya ayah lagi untuk memastikan aku memang tidak apa_apa walau mata ayah tidak bisa membohongiku ayah ragu denganku .
" Iyah ayah . . . Aku tidak apa_apa , percaya sama aku ayah aku janji " .
Aku tersenyum lagi untuk memastikan ayah agar tidak ragu .
" Janji ! " . Ayah memastikanku lagi dengan mengulurkan jari kelingkingnya .
" Janji ayah " . Aku mengaitkan jari kelingkingku dengan jari kelingking ayah dan kami berdua tertawa .
" Ayah katanya ayah janji , ayah akan mengajariku naik sepeda baru dipantai bersama suasana senja . . . Ayo ayah , ayah tidak lupa kan ? " . Aku menagih janji ayah dengan melepaskan jari kelingkingku .
" Okeh . . . Ayah tidak lupa sayang " . Ayah berganti posisi sekarang menghadap ke depan .
" Ayo makanya . . . Pulang ayaaahh nanti keburu malam " . Rengikku lagi dengan sedikit manja .
" Ayo mari kita pulang " . Ayah menyalahkan mesin mobilnya dan pulang .
Sampai dirumah , aku langsung turun dari mobil dan segera masuk untuk mengganti pakaianku . . . Sedangkan ayah menungguku diluar dan juga mengambil sepeda baruku untuk dibawah ke pantai .
Perjalan ke pantai tidak membutuhkan waktu lama karena memang ayah memilih lokasi rumah yang dekat dengan pantai .
Aku berlari keluar mobil menuju pasir pantai yang putih , aku bahagia dibuatnya sungguh bahagia sangat bahagia .
" Senjaaaaaa . . . Aku akan bisa naik sepeda , nanti aku akan naik sepeda dengan ayah kesini " . Aku mengambil segenggam pasir putih dan melemparkannya ke laut .
" Senja sini sayang ! " . Ayah melambaikan tangannya dan menyuruhku untuk ke tempatnya sekarang .
" Sini katanya akan belajar sepeda jangan disitu nanti jatuh ke laut " .
Ayah menarik tanganku pelan .
Aku menaiki sepeda yang dipegangi ayah .
" Ayah pegangi iyah aku takut " . Aku pastikan ayah untuk memeganginya .
" Iyah ayah pasti pegangin , jangan takut sayang . . . Kan ada ayah ! " .Ayah menenangkanku .
Aku menarik napas , agar sedikit tenang .
" Ayo sayang pelan_pelan , ayo_ayo ayah pegangin jangan takut " . Aku mulai mengayuhkan sepedaku dengan tangan ayah yang memegangi dari belakang .
" Ayo sayang terus_terus . . . Kamu bisa_bisa " . Ayah menyemangatiku .
Aku terus mengayuhkan sepedaku , terus dan terus . . . Mengikuti arahan ayah , hingga aku terjatuh_jatuh pun aku tidak peduli selama ada ayah disitu aku akan terlindungi . Butuh waktu lama untuk aku bisa mengendarai sepeda . . . Dengan arah yang hanya berputar_putar , tempat yang berpasir dan yang paling parah kakiku berdarah karena jatuh . Tapi aku tetap tidak menyerah aku ingin bisa . . . Senja pun kini berganti malam , ada bulan dan bintang disana . . . Aku melihatnya dari bawah dan aku semakin semangat . Ayah juga tidak kalah semangat dia tetap terus mengarahkanku agar aku dalam posisi seimbang dan yang akhirnya membuahkan hasil .
" Aku bisaaaaaa ayah . . . Aku bisa lihat ayah aku bisa " . Aku berteriak berlari dan turun dari sepeda untuk memeluk ayah .
" Iyah sayang ayah lihat . . . Kamu bisa . . . Anak ayah memang hebat " . Ayah menyambut pelukanku , dan mengangkatku hingga aku terasa terbang .
Aku begitu bahagia sangat bahagia . . . . Semua masalah seperti menghilang dari bayanganku . Kejadian disekolah hingga sosok ibu yang ku benci semuanya hilang . . . Aku bahagia begitu pun ayah terlihat bahagai diwajahnya .
Satu hal kecil yang membuatku bahagai adalah berada dipelukan ayah , tertawa bersama ayah dan sampai melakukan satu hal idiot sekalipun itu bahagai untukku asalkan aku melakukannya bersama ayah .
" Mulai sekarang kita ke pantai mengendarai sepeda bersama okeh . . . Kamu setuju sayang " . Ayah menurunkanku
Aku mengangguk tidak sabar untuk melakukannya .
" Iyah ayah aku setuju " . Aku tersenyum dan ayah mengikutinya .
" Sudah malam ayo kita pulang " . Ayah mengambil sepedaku untuk dimasukanku ke bagasi mobil dan kita pulang .
Setiap hari aku dan ayah bermain sepeda ke pantai , setiap hari . . . . Seperti tidak ada lagi hal yang dapat menghalangi ayah dan aku untuk bahagia berdua bersama senja . . . Berputar_putar dipasir yang putih , jatuh , berlari_berlari , bermain bola , membakar ikan , hujan_hujanan dan berbaring diatas pasir putih serta tidak boleh ketinggalan tentang hal ini memandang langit senja dan menikmati suasanya . Hal_hal kecil itu yang membuat kita berdua bahagia bahkan lebih dari bahagia dan kita berdua tidak akan pernah berhenti untuk melakukannya . Seperti kemarin , aku dan ayah akan tetap berada disini , hari ini hingga kita berdua tidak mempunyai alasan lagi untuk datang ke tempat ini . . . . . Dan seperti bola yang berada ditangan ayah bundar tidak mempunyai tepi hingga kemudian nanti dengan sendirinya akan mengempis lalu akan hilang terbuang .
" Ayah tendang bolanya cepat ! " . Ayah mencoba untuk menendangnya ke arahku yang sudah siap untuk menangkapnya .
" Ini bolanya coba tangkap sayang " . Ayah menendangnya dan tertendang jauh kebelakang dari posisiku .
" Ayah jangan keras_keras nendangnya kaki ku kan kecil ayah . . . . " . Aku berlari untuk mengambil bolanya .
" Ayo sayang lemparkan ke ayah jangan ditendang " . Perintah ayah yang dengan sigap aku mengikutinya .
" Ini ayah bolanya . . . . " . Aku melemparnya ke arah ayah tetapi meleset ke arah anak laki_laki yang berdiri di tepi jalan itu . Usianya sepertinya sama seperti aku . . . . Dengan baju berwarna biru seperti yang aku dan ayah kenakan sekarang . Anak itu langsung mengambil bola yang mengenai tangannya karena lemparanku . Ayah langsung menyuruhku untuk mengambil bola dan meminta maaf kepada anak laki_laki itu .
" Sayang ambil bolanya dan meminta maaf " . Suruh ayah mendekatiku .
" Ayah saja " . Aku menolak dengan wajah yang sedikit ketakutan .
" Kenapa ayah saja . . . Siapa yang menendang ? itu harus bertanggung jawab " . Jawab ayah dengan suara sedikit menekan .
" Tapi ayah . . . ! " . Aku belum selesai bicara ayah langsung memotong .
" Ayo sayang . . . Sebelum anak laki_laki itu datang kesini " .
Aku yang sudah ditekan ayah bingung akan berbuat apa lagi . . . Ayah tahu aku ketakutan tetapi ayah juga lebih tahu aku harus bersikap tanggung jawab . Aku takut jika anak laki_laki itu akan berlari ketakutan jika aku mendekatinya seperti semua teman_temanku disekolah . Tetapi aku akan mencobanya dan mengambil bolaku yang sekarang berada ditangannya .
Aku berjalan menuju anak laki_laki itu , dengan sedikit berlari sekarang aku berada didepannya .
" Ini bolamu . . . Lain kali kalau melempar dengan lemparan yang pas agar tidak meleset ke arah ku " . Katanya dengan tersenyum lalu aku mengambil bolaku dari tangannya .
" Sayang . . . Ayo kita pulang sudah sore " . Suara perempuan didalam mobil yang melambaikan tangannya kepada anak laki_laki didepanku .
" Iyah ibu . . . " . Anak laki_laki itu berlari menuju mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh perempuan itu .
" Nama kamu siapa ? " . Tanyaku spontan yang membuatnya berhenti lalu menghadap ke arahku .
" Kumbang . . . " . Jawabnya singkat dan kemudian berlari dan memasuki mobil .
Mobil itu melaju perlahan didepanku , yang lama_lama ke lamaan jauh lalu menghilang . Aku yang hanya terdiam mengingat senyumnya , untuk pertama kalinya seorang anak tersenyum untukku selain ayah dan senja hari . Anak laki_laki itu tidak takut kepadaku walau aku tidak tersenyum untuknya . . . Dan ibunya terlihat seperti ayah yang menyayangi anaknya .
" Sayang apa yang kamu lihat ? Anaknya kan sudah pergi . . . Mana bolanya . . . Ayo kita lanjutkan mainnya " . Ayah menepuk pundaku dan mengambil bola dari tanganku yang kemudian berjalan menuju ke tengah pasir putih untuk bermain lagi .
" Kumbang . . . Akan selalu aku ingat kumbang " . Aku berbicara pelan sambil tersenyum . . . Nama itu memang akan selalu ku ingat kumbang ! .
" Iyah ayah . . . Aku main " . Aku berteriak dan berlari lagi menuju ke tengah pasir putih untuk bermain bola bersama ayah .
Diluar sunyi menyapu malam ini . . . Hanya suara hujan yang tenang tanpa petir menganggu . Aku sedang memilah_milah buku yang dibelikan ayah didepan televisi , sedangkan ayah sedang membuat nasi goreng kesukaan kami berdua didapur belakang .
Aku membereskan semua buku_buku yang berantakan diatas sofa tempatku duduk dan aku pisahkan yang menurutku bagus ceritanya . Ada tiga buku yang aku tidak suka jalan ceritanya dan aku akan menyuruh ayah untuk membuangnya atau mungkin membakarnya .
" Sudah siap sayang nasi gorengnya . . . . Mari kita makan " . Ayah membawa dua piring nasi goreng ditangannya dan meletakannya dimeja dekat sofa .
" Lagi ngapain sayang ? Cepat makan sudah siap nasinya ! " . Ayah menuangkan segelas air putih untukku .
" Ayah ini ada tiga buku tentang senja yang ayah belikan untukku , Buang saja ayah jika perlu ayah harus membakarnya . . . aku tidak suka jalan ceritanya " . Aku memberikan buku_buku tersebut kepada ayah .
" Kenapa harus dibuang sayang . . . Ini semua kan tentang senja " . Ayah mengambil buku_buku tersebut dari sofa .
" Aku tidak suka jalan ceritanya ayah . . . Aku tidak suka " . Jawabku dengan sedikit kesal , kenapa ayah harus bertanya lagi kan aku sudah jelaskan .
" Kenapa tidak suka . . . Ayah baca bagus ceritanya , makanya ayah membelinya untukmu sayang " . Ayah mengusap rambutku .
" Tidak bagus ayah aku tidak suka . . . Aku tidak suka cerita yang menceritakkan tentang baiknya seorang ibu " . Perkataanku membuat ayah berpikir dan melepaskan tangannya dari rambutku .
" Bukannya semua ibu itu baik ? Ibu kamu juga baik " . Kata ayah sambil membuka salah satu dari tiga buku itu .
Aku berpikir sebentar . . . . Apa yang aku katakan pasti akan membuat ayah marah .
" Tidak ayah . . . Pokoknya aku tidak suka , ibuku tidak baik tidak seperti ibu_ibu mereka yang mereka ceritakan . . . Ibuku jahat ayah aku membencinya " . Aku membuang buku_buku tersebut ke lantai termasuk buku yang dipegang ayah , yang membuat ayah langsung duduk disampingku dan mengusap rambutku dengan lembut .
" Tidak sayang kamu salah . . . Ibumu baik , ibumu sayang kepada kamu sayang sekali lebih dari ayah " . Kata ayah pelan sambil memgecup keningku .
" Tidak ayah ibu tidak sayang kepadaku , kalau ibu sayang ibu tidak mungkin mengingkari janjinya dan meninggalkanku sekarang . . . Aku benci ibu ayah aku benci " . Aku berteriak berdiri menghadap ayah yang duduk disofa dan aku berlari kekamarku dan menguncinya .
Apa yang aku katakan kepada ayah semua yang membayangiku setiap hari bahkan aku tidak bisa untuk melupakannya saat aku terbangun dari mimpi . Aku tidak tahu apa reaksi ayah ketika mendengar itu . . . . . Ayah mungkin tahu sekarang aku menangis dikamar ini , menangis seperti banyak tekanan dalam hidupku .
" Sayang ayo keluar buka pintunya . . . Ayah minta maaf sayang " . Ayah mengetuk pintu yang ku kunci dari dalam namun aku tetap dalam posisiku duduk dibalik pintu dan menangis .
" Sayang jangan diam saja . . . Ayo keluar " . Ayah mencoba untuk membujukku , tetapi aku tetap sama diam dan menangis .
" Sayang ayo lihat senja malam ini . . . . Disana kamu boleh menangis sepuas kamu " . Perkataan ayah yang membuat aku berpikir , senja apakah aku akan bercerita kepadanya jika aku membenci ibu .
" Sayang keluar . . . Nanti keburu malam hujannya kan sudah reda . . . Kita naik sepeda " . Ayah mencoba merayuku agar keluar dan berhenti menangis .
" Beneran ayah . . . " . Tanyaku pelan mungkin ayah mendengarkanku .
" Beneran kita naik sepeda " . Kata ayah dengan nada semangat .
Aku berdiri dan membuka pintu . . . Aku mengusap pipiku yang sudah basah . Aku pasang wajah semangat penuh senyuman aku akan melihat senja malam hari .
" Ckkrekkk . . . " . Ayah sudah siap memelukku dan aku menyambutnya .
" Ayah ayo lihat . . . " . Aku berbisik ditelinga ayah .
" Haha . . . . Kamu kena ! Mana ada senja malam hari " . Ayah mengangkatku seperti biasa .
" Haaaaahahhhh ayah bohong . . . Ayah bohong . . . " . Aku memukul_mukul pundak ayah .
" Haha kamu kena . . . " . Ayah menggodaku .
Dan malam itu , kami berdua tertawa bersama . . . . Ayah menceritakkan semua hal tentang senja hingga aku merasa ngantuk dan aku tertidur pulas dipangkuan ayah .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar