Sabtu, 09 Januari 2016

Senja

PART IV .
" Kumbang " . Cukup keras suaraku yang membuat semua anak_anak diruangan kelas ini merasa terganggu pekerjaannya karena mereka sedang berfokus mengerjakan tugas yang diberikan .
" Ada apa ? " . Tanyanya pelan . . . Dia mendekatkan wajahnya ke arahku .
" Eh . . . tidak . . Tidak jadi " . Aku tidak meneruskan perkataanku . . . . Dan beralih menghadap ke depan .
" Hey . . Ada apa ? " . Dia menendang_nendang kursiku dari belakang . . Tetapi aku tidak memperdulikannya .
Aku tidak tahu bagaimana caranya untukku memberitahu dia jika dia akan aku perkenalkan kepada ayah . Aku berpikir sambil memutar_mutarkan bolpoin ditanganku dan mencoret_coretkannya dibuku tugasku .
" Senja kamu sedang ngapain ? " . Pak guru bertanya heran berdiri disampingku .
" Tidak Pak ? . Jawabku gugup menutup buku . Bodohnya aku hingga tidak sadar jika Pak guru mendekatiku . . . Kesalku dalam hati .
" Kamu sudah selesai ? " . Dia mengambil buku tugasku .
" Eh . . Sudah Pak , sudah selesai " . Aku membenarkan posisiku .
" Oh iyah sudah . . . Jangan melamun ! " . Meletakan buku tugasku . . . Dan berjalan untuk melihat hasil pekerjaan anak lainnya .
Bel istirahat baru saja berbunyi dan pak guru juga baru saja keluar meninggalkan ruangan kelas diikuti anak_anak lainnya dibelakang . Aku merapikan isi tasku . . . Aku bergegas keluar tidak ada tujuan mau kemana . . . . Hanya sebuah kursi panjang dekat dengan lapangan seperti kemarin yang menjadi tempat favoritku sejak pertama aku menginjakan kaki disini .
" Senja tunggu " . Aku berhenti diambang pintu ruangan kelas . . .  Aku menoleh ke arahnya .
" Kamu mau bilang apa tadi ? " . Dia mendekat ke arahku  .
" Tidak ada yang ingin aku omongin ke kamu " . Aku melangkah pergi membelakanginya .
" Tapi tadi . . . . Senja ! " . Seperti biasa aku menghiraukannya .
Kali ini hari berlalu begitu singkat terasa . . . Mungkin karena ada kumbang , dia menemaniku seharian , aku bercerita banyak tentang senja kepadanya dan dia menceritakkan semua tentangnya . Hangat dan tidak sepi itu yang aku rasa . . . Aku sungguh bahagia hari ini dan dia . . .  Nampak bahagia juga sepertiku .
Aku duduk didermaga memandang langit senja . . . Kakiku menggantung ke bawah diatas laut . Begitu indah memang ! Kumbang berjalan ke arahku sambil membawa ikan bakar yang baru dibakarnya tadi bersama orang_orang yang tidak tahu mereka itu siapa .
" Ini ikan bakar . . . . Kamu suka kan ? " . Dia duduk disampingku sambil menyodorkan dua buah ikan bakar diatas piring bergambar hati merah dipermukaanya . Aku tersenyum melihatnya .
" Suka . . . Terimakasih " . Kami saling menatap dan mata kita bertemu . Matanya berlari ke arah ke langit senja . . . Menatapnya hingga terasa dekat pada perasaanya .
" Indah iyah ! Seperti kamu " . Dia tersenyum . . .  . matanya masih menatap langit senja yang masih kokoh bertahan disana . Aku hanya terdiam . . . Aku mengerti apa yang dia katakan . . . Indah sepertiku ! Dia mengatakannya untukku .
" Oh iyah . . . Kamu mau bilang apa tadi pagi ? " . Dia mengambil ikan bakar itu sedikit dan memakannya .
" Tidak ada " . Aku menggelengkan kepalaku .
" Ayo lah . . . Aku penasaran ! "  . Dia mengambil sedikit ikan bakar itu dan memakannya lagi .
" Hmmm . . . Sebenarnya aku ingin mengenalkan kamu kepada ayahku besok lusa " . Aku takut salah . Ekpresi wajahnya langsung berubah . . . Terkejut namun mencoba mengerti . Dia terdiam hanya terdiam mungkin dia berpikir .
" Kalau kamu tidak mau juga tidak apa_apa , aku tidak marah apalagi memaksakanmu untuk bilang iyah " . Aku menundukan kepalaku ke bawah melihat air laut yang bergoyang tidak tenang .
" Hahahaha " . Dia tertawa memandangku .
" Kenapa kamu tertawa . . . Kamu tidak marah ? " . Aku bertanya heran .
" Habisnya kamu lucu . . . Iyah pasti aku mau dan kenapa aku harus marah ? " . Dia memgambil sedikit ikan bakar itu lagi . . . Dan memakannya .
" Benar . . . Aku pikir kamu marah " . Aku berharap penuh .
" Ayo makan ikannya . . . Besok lusa kan ditempat ini biasa " . Dia mengangkat piringnya . . . Dan dipegangnya diatas pangkuannya .
Aku mengangguk bahagia . . . Senja kali ini benar_banar membuat hidupku menjadi sempurna . Dia , aku akan  mengenalkannya kepada ayah . . . Dua orang yang telah menghidupkan jiwaku . . . . Aku rasa aku ingin hidup selamanya .
Aku duduk didepan cermin , memandang wajahku yang putih pucat warnanya . Aku mulai menaburkan sedikit bedak pada pipiku , aku mengoleskan tipis lipstik berwarna pink pekat pada bibirku . . . .  Nampak serasi disana dengan bibirku yang membentuk seperti hati . Aku ikat setengah rambutku hingga nampak anggun terlihat . Aku mengenakan gaun tanpa lengan berwarna hitam pucat , panjangnya menjuntai sampai ke mata kaki , tidak ada hiasan atau embel_embel sekalipun yang melekat . Hanya gaun sederhana namun terlihat menarik dan kontras dengan warna kulitku yang putih langsat . Aku tidak berdandan lebih hanya ini yang aku bisa . . . Aku masih duduk didepan cermin dan aku tersenyum . . . Aku sudah siap hari ini ! Kataku dalam hati . Memang pertemuan ini tidak resmi namun aku ingin terlihat indah disepasang kelopak matanya .
" Senja , ayah sudah siap ! " . Ayah memanggilku , mungkin ayah sudah rapi .
" Iyah ayah , senja keluar " . Aku membereskan semuanya dan keluar menemui ayah . Aku membuka pintu kamarku . . . . dan menutupnya . Aku berlari keluar rumah . . . Ayah sudah menungguku didalam mobil . Aku menutup pintu rumah , menguncinya , melangkah ke mobil , membuka pintu depannya dan menutupnya lagi . Aku duduk dijok depan samping ayah .
" Kamu sudah siap ? " .  Ayah melihat ke arahku .
" Siap ayah " . Aku mengangguk tanda siap .
" Kamu cantik sayang " . Ayah tersenyum sambil menyalahkan mesin mobilnya .
" Terimakasih ayah . . . Ayo jalan " . Aku sedikit cemas . Ayah tahu hal itu ayah memegang tanganku menenangkan perasaanku .
" Jangan cemas , jangan gugup ini hanya pertemuan biasa sayang tenangkan perasaanmu " . Ayah melepaskan genggamannya dan berfokus pada kemudinya . Ayah memang tahu apa yang aku rasakan . . . Aku mencoba menenangkan diri dengan beberapa kali menghela nafas . Ayah nampak gagah terlihat . . . Dengan balutan jas hitam yang menutupi baju putih didalamnya dengan rapi . Celana panjang hitam dan sepatu hitamnya menandakan seperti resmi acara pertemuannya  .
" Kamu mencintainya ? " . Pertanyaan itu . . . Ayah memang tahu aku . Entah apa yang harus aku jawab aku hanya berpikir terdiam .
" Kenapa diam saja ? " . Ayah menekanku sekarang .
" Eh . . . Aku tidak tahu yah " . Aku memang tidak tahu apa yang harus aku jawab , apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya . . . Tapi itu tidak mungkin . Ayah mengangguk mungkin dia mengerti maksudku . . . . Aku tidak ingin mengatakannya sekarang .
Ayah memparkirkan mobilnya dijalan dekat pantai . Aku turun dan ayah turun . . . . Tidak ada siapa_siapa sepi namun tenang .
" Dia belum datang yah " . Aku melangkah ke pasir putih .
" Iyah sudah kita tunggu aja disini " . Ayah mengikutiku .
Aku berjalan melangkah pelan diatas dermaga . . . Aku duduk diujung dermaga . . . . Ayah duduk disampingku . Kami berdua sama_sama melihat langit senja yang mulai menunjukan jati dirinya . .
" Masih indah seperti dulu sayang " . Ayah mematap langitnya . . . Pandangannya jauh ke depan seperti langit senja ini menampilkan kisah yang sudah lama dia lalui disini .
" Dia belum datang juga yah " . Aku melihat kebelakang dan dia masih belum ada .
" Sudahlah kita tunggu saja . . . . Jika dia tidak datang besok kan ada waktu lagi " . Dia membelai rambutku dan menatapku yang terlihat cemas .
Aku tersenyum tenang . . . Ayah tidak akan marah jika dia tidak datang hari ini . Senja sudah datang dan dia belum datang . . . Warna senja sedikit layu tapi tetap dia masih menunjukan suasana damainya .
" Aku ingin bertanya kepada ayah dan ayah harus menjawabnya " . Iyah aku ingin bertanya tentang hal itu , pertanyaan dulu yang belum aku temukan jawabannya . Dan ini adalah waktu yang tepat .
" Kamu ingin bertanya apa ? " . Tatapannya penasaran .
" Pertanyaan ini . . . . Pertanyaan dulu ayah . . . Ehhhh kenapa ayah suka senja ? " .  Akhirnya aku tanyakan juga . . . Namun wajahnya berubah . . . Tatapannya menjadi tajam jauh , dia seperti mengingat sesuatu .
" Hmmm . . . . Karena ibumu " . Jawab ayah ragu dan takut salah .
" Karena ibu ? Maksud ayah ? " . Aku tidak mengerti jawaban ayah .
" Iyah karena ibumu , dulu ayah bertemu ibumu disini , banyak hal yang ayah lewati bersama ibumu di tempat ini . . . Dan ayah kesini karena ayah ingin mengingatnya , dia wanita baik seperti senja yang menenangkan . . . Makanya ayah suka mengajakmu ke sini karena ayah tidak ingin melupakan ibumu " . Aku mencoba untuk mengerti tapi ibu . . . Dia adalah orang yang aku benci dan ayah tahu itu .
" Ayah masih mengingat ibu ? " . Ayah hanya mengangguk . Mungkin ayah tahu perubahan perasaanku sekarang . . . Dia mencoba menenangkanku namun aku menghindar karena memang sudah terlambat untukku . . . . Aku meneteskan air mataku dan ayah melihatnya .
Aku berdiri mungkin pergi yang akan aku lakukan sekarang .
" Aku benci senja . . . . Aku benci senja ayah aku benci senja " . Aku menangis , wajahku basa . . . Aku mencoba berlari untuk pergi namun ayah memegang tangan kananku  .
" Sayang . . . Tolong dengerin penjelasan ayah " . Ayah semakin kencang memegang tangan kananku , sakit rasanya tapi itu tidak seberapa .  Tangan kiriku mencoba untuk melepaskan pegangan tangan ayah tapi tenaga ku tidak sekuat tenaga ayah . . . Dan hujan mulai turun satu_persatu .
" Ayah tahu aku benci ibu . . . Kenapa ayah kenalkan aku kepada senja ? " . Aku merontah berusaha untuk berlari tapi ayah tetap kuat memegangi tangan kananku bahkan semakin kencang .
" Karena ayah sayang ibumu . . . Dia ibumu sayang dia . . . .  " .  Ayah berusaha menjelaskan namun aku memotongnya , jauh didalam hatiku aku masih ingat luka itu dan sekarang aku tidak ingin mengingatnya lagi , apa lagi bersahabat dengan senja karena ibu . . . Itu tidak akan pernah aku lakukan .
" Tidak ayah tidak aku benci ibu . . . Ibu jahat ayah ibu jahat . . . Jika dia baik dia ada disini sekarang " . Aku berhasil lepas dari pegangan tangan ayah , aku masih tetap menangis . . . Kini hujan semakin deras berjatuhan membasahi seluruh yang berada dibawahnya . Aku berlari , menangis dan tidak peduli dengan panggilan ayah yang terus_terusan aku dengar . Aku melihat kumbang berdiri ditengah dermaga , bajunya basah termasuk bunga yang berada ditangannya . Dia tidak menghampiriku mungkin dia mendengar semuanya . . . . Aku berhenti didepannya . Dia melihatku menangis , dia hanya diam menatapku layu . . . Tidak ada kata_kata yang keluar dari mulutnya , dia melepaskan pegangannya dari bunga itu . . . Bunga mawar berwarna merah cerah  itu sekarang jatuh bercampur dengan air hujan dan dia tidak memperdulikannya . Aku berlari meninggalkannya . . . Dia tidak mencegahku dan membiarkanku menjauh lalu menghilang dari pandangannya . Hujan semakin deras , rasanya dingin menusukku . . . Aku belum sepenuhnya melupakan luka itu , luka itu kini seperti tumbuh lagi dan menjulur ke setiap bagian sudut  tubuhku .
Aku langsung masuk ke kamarku . . . Aku tidak peduli dengan bajuku dan badanku yang kini basa . Aku membanting semua barang_barang yang berhubungan tentang senja ke lantai termasuk buku_buku yang ayah belikan . Semuanya , lukisan tentang senja yang ayah lukis sendiri dan terpajang rapi didinding kamarku . . . . Aku merusaknya hingga menjadi bubur dilantai . Aku masih tetap menangis dan hujan pun masih deras terdengar . . . Aku duduk dipinggiran tempat tidur , kedua tanganku memegang rambut aku ingin sekali menjabaknya hingga rontok namun aku sadar aku melakukannya pun semua tidak akan berubah aku masih tetap benci ibu . Aku menundukan kepalaku dan tanganku yang memeluk lutut .
Sebenarnya aku tidak ingin melewatkan hari ini tetapi aku masih tetap harus masuk sekolah . Aku menghindar dari kumbang . . . Meskipun beberapa kali kumbang memanggilku dan berusaha mendekatiku . . . Aku menjauhinya .
Beberapa kali juga aku dan kumbang berada ditempat yang sama , diperpustakaan , ditaman bahkan kumbang mengikutiku . . . Aku masih tetap sama menghidarinya .
Aku mengambil sepeda di parkiran dan aku menaikinya .
" Senja " . Dia menahanku seperti biasa dari belakang . Aku turun dari sepeda . . . Dan menatapnya tanpa berkata apapun .
" Aku ikut . . . Kita lihat senja " . Dia berlaga bodoh atau memang tidak tahu apa yang terjadi kemarin . Dia melihatnya bahkan dia berada dekat disana tapi aku tidak peduli . . . Aku tetap menaiki sepedaku lagi dan mengayunnya dan dia menahanku lagi .
" Senja . . . Kamu masih suka senja kan ? " . Dia memegangi sepedaku dari belakang .
Aku turun . . . Dan menatapnya kembali dengan tajam terdiam .
" Aku tidak pernah suka senja " . Sedikit menyakitkan memang . . . Tapi aku berjanji kepada diriku mulai sekarang aku mencoba untuk membenci senja .
" Kamu bohong " . Dia melepaskan tangannya dari sepedaku . . . Wajahnya berubah layu seperti tatapannya . Namun aku tidak peduli Aku tetap menaiki sepedaku kembali dan mengayunkannya dengan cepat .         
" Senja kamu bohong " . Dia berteriak keras . . . Aku hanya menoleh ke arahnya  dan tidak peduli .
Dirumah akupun sama , menghindari ayah , ayah beberapa kali berusaha untuk berbicara serius kepadaku . . . Tetapi aku tidak menghiraukannya ! Ayah tahu apa yang terjadi tetapi ayah tidak bisa apa_apa karena ayah semakin sibuk dengan pekerjaannya .
Seperti dimeja makan pagi ini , aku hanya diam tidak seperti biasanya . . . . Aku sadar ayah memperhatikanku tapi aku tidak peduli aku sibuk dengan roti bakarku . . . Yang aku oleskan sedikit demi sedikit dengan selai kacang kesukaanku .
" Hmmm . . . Ayah mau bicara serius kapada kamu " . Aku mendengar itu . . . . Tetapi aku masih sibuk dengan roti bakarku dan aku tidak peduli .
" Senja . . . Ayah mau bicara tolong dengarkan ! " . Ayah berdiri ,  bicaranya cukup keras . Aku berhenti dengan roti bakarku . . . Lalu aku tidak peduli lagi aku melanjutkan kegiatanku mengoles selai kacang .
" Senja . . . Ayah tidak mengerti maumu apa ? Senja ! " . Ayah menahan tanganku . Aku hanya diam . . . Aku letakan sendokku beserta roti bakarku diatas piring . Meskipun aku belum memakannya . . . Namun kali ini perutku tidak terasa lapar lagi .
" Aku harus berangkat sudah siang nanti aku terlambat " . Aku berdiri dan mengambil tas sekolahku .
" Aku berangkat " . Aku yakinkan lagi kepada ayah . . . Aku meninggalkannya .
Disekolahan kumbang pun sama , dia berusaha untuk menarik perhatianku dengan melakukan hal_hal konyol . Dimulai dari setiap pagi dia menulis kata_kata tentang senja disecarik kertas dan meletakannya diatas mejaku namun aku selalu merobeknya dan membuangnya ke lantai . . . Tapi dia memungutnya lagi dan membuangnya ke tempat sampah . Dia tidak putus asa . . . . Kali ini aku duduk dimejaku , tidak ada anak disini karena semua ke luar untuk beristirahat . Aku menundukan kepalaku dimeja . . . Ini memang lebih parah ! Aku menghela nafas .
" Senja lihat , cantikan . . . ? " . Aku tahu suara itu . . . Aku mengangkat kepalaku . Kumbang . . . ! Dia didepanku sekarang membawa lukisan senja disebuah kertas . . . Cantik memang dengan panorama sebuah laut sore . . . Ada bola berwarna orange yang akan menyembunyikan dirinya diawan_awan senja . Warna itu memantulkan ke sekelilingnya . . . . Ada dermaga disana , diujungnya terlukis dua orang , laki_laki dan perempuan sedang duduk saling berpegangan . Indah dan terlihat nyata . . . Tapi aku tidak mungkin akan mengatakannya .
" Hey jangan diam saja . . . Cantikkan ? " . Dia tersenyum membentangkan lukisan itu didepanku . Aku tetap diam . . . . Tidak ada suara yang aku ucapakan .
Aku berdiri dan merebut lukisan itu dari tangannya , aku merobeknya hingga hancur berserakan dilantai . Dia menatapku . . . Wajahnya berubah menjadi tidak berarti . Dia menurunkan badannya ada rasa kecewa disana . . . Aku masih tetap berdiri melihatnya memunguti sobekan kertas yang berserakan  dilantai . Aku ingin menangis melihat hal itu . . . Dia menatapku dari bawah , air mataku menetes perlahan .
" Senja " . Dia berdiri , tangannya mencoba meraih wajahku . Aku menghindar . . . Aku mengusap air mataku dan berlari meninggalkannya .
Waktu terus berputar dia tetap berusaha . . . Aku mengambil sepeda ditempat parkiran . . . Anak_anak yang lain juga mengambilnya ,
aku menaikinya dan mengayunkannya pelan .
" Senja " . Dia berlari mengejarku . Namun aku tidak peduli , aku tetap mengayunkannya bahkan lebih cepat .
" Senja . . . Berhenti " . Dia didepanku berdiri , tangannya menahan sepedaku dari depan , aku turun dan berdiri memegangi sepedaku .
" Lepaskan tanganmu dari keranjangku " . Aku berusaha melepaskan tangannya tapi dia tetap kuat .
" Tidak senja tidak dengarkan aku " . Dia masih tetap menahan sepedaku .
" Tidak ada yang perlu didengarkan . . . Kamu pergi dari hadapanku " . Aku melepaskan tangannya dan berhasil .
" Senja Tidak . . . Ayo kita lihat senja " . Dia memegang tangan kiriku . . . Kencang rasanya .
" Kamu itu bodoh atau pura_pura tidak tahu . . . Aku benci senja , aku tidak pernah menyukainya " . Aku cukup keras mengatakannya hingga membuat semua orang_orang yang yang berada ditempat parkiran ini melihat kami berdua . Aku memandangi sekitar . . . Dan melepaskan paksa tangannya . Aku menaiki sepedaku dan mengayunkannya cepat . Kumbang hanya diam menatapku . . . Hingga aku menghilang dari pandangannya .
Aku duduk dipinggiran tempat tidurku , aku kunci pintunya . . . Semua berlalu begitu saja . Tentang senja , suasananya , warnanya dan kebahagiaan yang pernah aku dapat kini menjadi bayangan yang begitu mengerikan untukku .
Rumah ini sepi tidak ada suarapun yang aku dengar dari dalam . . . Ayah memang belum pulang . Aku menundukan kepalaku . . . Dan tanganku memeluk lutut . Aku menangis sepuasku , aku tidak tahu berapa lama durasiku menangis . . . Hingga mataku terasa sakit dan berat untuk membukanya . Aku mendengar langkah laki ayah dari dalam .
" Sayang " . Ayah memanggilku namun aku diam menghiraukannya .
" Sayang kamu sudah pulangkan ? Kenapa sepedanya tidak dimasukan ? hanya terparkir diluar " . Ayah mengetuk pintu . . . Aku tetap diam .
" Sayang " . Ayah mengetuk pintu lagi .
" Sayang ayah tahu . . . Kamu ada didalam " . Ayah masih sama mengetuk pintu . . . Aku hanya diam merasakan kesakitan yang ada diseluruh badanku . Aku berusaha berdiri tapi badanku kaku untuk digerakan , kepalaku sangat berat untuk diangkat , kedua tanganku memegangi perutku yang perih ku tahan , kedua mataku tidak jelas memandang . . . Buram seperti bayangan yang kabur , aku berdiri dan berusaha meraih apa yang ada didepanku , aku melangkah dan langkah kakiku gontai . Ayah masih memanggil_manggilku terus , mengetuk pintu bahkan semakin keras .
" Ayah . . . . " . Aku mengatakanya lemas . . . Aku tidak kuat , badanku terasa akan jatuh , aku pejamkan kedua mataku dan aku ingin tidur .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar