PART VI .
Dulu semua berwarna putih , lalu berubah abu_abu kemudian menjadi hitam dan sekarang hitam pekat selanjutnya . Tiada lagi yang aku rasa selain bayangan ayah dan luka itu perlahan membunuh semua . Aku berubah menjadi seperti dulu , gadis acuh tak acuh , tidak peduli , kaku dan tanpa senyuman . . . . Aku pun melupakan bagaimana rasanya menjadi gadis ceria yang diajarkan oleh kumbang dulu . Ayah , ayah menyadari kesalahannya . . . Ayah berusaha meminta maaf kepadaku aku tidak pernah peduli , tidak ada kehangatan , tidak ada perbincangan tentang senja dan tidak ada tatapan teduh dari ayah lagi semua hilang menjadi bayangan yang menetap disetiap peraduan hidupku . . . Dia tidak ingin pergi , hingga aku ingin sekali memberontak , marah namun hanya tangisan yang mampu menenangkanku . Kumbang ! . Dia beberapa kali mengajakku untuk melihat senja , aku menolaknya hingga mendorongnya jatuh . Ada rasa simpati saat dia menatapku . . . Namun dia tidak bisa apa_apa , hanya menatap semua gerakanku dari kejahuan . . . Aku sadar dia melakukan hal itu , lagi_lagi aku juga tidak peduli . Sekarang dia tahu keadaanku . . . Benci , kecewa dan melupakan semua tentang senja itu yang aku lakukan sekarang . Aku mengurungkan diriku dikamar , aku keluar hanya untuk sekolah dan makan itu pun jarang aku lakukan . Nilai sekolahku merah , turun merendah hingga yang paling rendah . . . . Ayah beberapa kali dipanggil ke sekolahan oleh wali kelasku untuk menyelesaikan masalah tentang nilaiku yang akhir_akhir ini buruk , beberapa kali juga aku dimarahi wali kelas karena sering meninggalkan kelas tanpa izin , dihukum , hingga diancam akan dikeluarkan tapi ayah memohon dan menceritakan semua apa yang terjadi denganku dan pihak sekolah pun merasa perihatin dan berusaha membantu masalah ini , dengan beberapa kali memanggilku ke ruang bimbingan konseling . Memberikanku beberapa penerangan , penyuluan , nasihat . . .Tapi aku tidak ada perubahan tetap seperti ini karena bagiku aku sudah terlanjur jatuh kepayahan . Badanku kini kurus , layu , lemas bagai orang terkena penyakit parah . . . . Ayah tidak sanggup melihatku dia memilih pergi, beberapa kali aku mempergokinya meneteskan air mata satu_persatu ke pipih . . . Ketika ayah sadar, aku melihatnya dia langsung mengusap . . . Aku hanya diam menatapnya lalu pergi dari hadapan ayah . Aku masih tetap diam , melamun dan menahannya semua . . . Kumbang ! . Beberapa kali mencoba mendekatiku tapi teman_temannya selalu mecegah melarangnya , mungkin yang ada dipikiran mereka aku ini sudah gila . . . Mungkin memang aku rasa aku sudah gila . Dibelakangku mereka semua berbisik_bisik membicarakanku . . . Aku tau dan aku mendengarkannya , ketika mereka melakukan hal itu aku langsung menatap ke arah mereka . . . Mereka langsung diam bahkan mereka pergi berlari , gila dan takut mungkin itu yang ada dipikiran mereka . Ayah kewalahan dengan kelakuanku yang semakin menjadi . . . Dia pun meminta bantuan kumbang, dia bersedia . . . Beberapa kali ayah mengundang kumbang makan malam dirumah . . . Namun aku selalu merusak acaranya , dengan membantingkan semua makanan yang tersedia dimeja . Setiap pagi kumbang seperti biasa dia mengajakku untuk berangkat sekolah bareng , namun aku memilih menaiki sepedaku sendiri , mengayunkannya cepat , dia mengejar lalu beriringan denganku sekarang . . . Tapi aku mendorongnya jatuh dijalanan , aku tidak peduli . . . Aku malah pergi meninggalkannya . Badannya penuh luka ketika dia datang terlambat , semua orang bertanya tapi dia hanya menjawab " Tidak apa_apa , aku hanya jatuh dijalan karena aku saja yang kurang fokus " . . . . Dia menutupi semuanya . . . Hal itu juga aku tidak peduli . Beberapa malam ayah mengajak kumbang untuk tidur dirumah . Mereka berdua berusaha mencari perhatiaanku . . . Ayah mengajaknya melukis senja , seperti dulu yang aku lakukan dengan ayah untuk mengusir bosan . Sekarang mereka melakukannya dan aku juga tidak peduli . . . Aku lebih memilih untuk mengurungkan diri dikamar . Aku sadar dalam hal ini , aku sudah semakin dewasa dan ayah semakin sibuk dengan pekerjaannya . Tidak mungkin ayah memperlakukanku seperti senja kecilnya dulu dan aku harus mengerti itu . . . Tapi jika ayah ingin tahu ini menyakitkan untukku . . . . Aku akui kehidupan aku dan ayah sekarang memang semakin berubah tidak seperti dulu . . . Tidak seperti dulu , sekarang ayah mampu membelikanku semua yang aku inginkan , ini mimpi ayah dulu tapi bukan ini yang aku mau . . . Aku ingin ayah tetsenyum seperti dulu lagi .
Hari ini , hari yang melelahkan bagiku . . . Kumbang beberapa kali memberikanku secarik kertas dari belakang yang tertulis " Aku tunggu kamu didermaga bersama suasana senja . . Aku tunggu kamu , dan kamu harus datang ! " . Beberapa kali dia melakukannya . . . Aku pun kesal dibuatnya . . . Hingga aku menghentaknya dan memilih meninggalkan kelas . Guru yang ada dikelas mencegahku dan mencoba menenangkanku . . . Namun aku tetap berlari pergi tidak peduli .
Aku mengambil tas sekolahku . . . Tidak ada orang dikelas ini , kecuali kumbang yang masih tetap memandang dan menungguku . Aku diam dan dia pun diam . . . . Sunyi dan senyap suasananya .
" Senja tunggu ! " . Aku berhenti melangkah . . . Dia masih tetap diposisinya duduk ditempat duduknya .
" Aku tunggu kamu disuasana senja " . Dia mengakhirinya . . . Lalu pergi pulang meninggalkanku .
Aku melihat langkah kakinya , melangkah pergi . . . Kemudian menghilang tidak ada jejaknya yang setapak hanya kata itu yang aku ingat . . . . Menungguku disuasana senja dan berlalu begitu saja .
Aku berjalan perlahan , sudah sepi tiada tertawa orang_orang . . . Hanya ada kendaraan para guru yang terpakir ditempatnya dengan tenang .
Aku menaiki sepedaku lalu mengayunkannya perlahan . . . . Suara gema petir mulai terdengar ditelingaku . Tanda_tanda hujan akan menyapaku dan menemaniku . . . . Aku tidak suka hujan , hanya saja aku suka sentuhannya karena saat aku menangis dibawah hujan , hujan akan mengahapusnya hilang . Satu_persatu air berjatuhan dari atas . . . Aku membiarkan diriku basah dijalanan luas , dingin tidak aku rasa . . . Saat ini aku seperti orang bodoh tidak punya akal , bermain sepeda dijalanan yang diguyur hujan . . . Aku mengayunkannya pelan . Aku menikmatinya . . . Sekarang aku tidak ingin menangis hanya ingin berteman dengan ribuan air hujan . Angin mengembuskannya kencang hingga terasa sakit menetes disetiap kulit diatas tulang putihku . Aku menikmatinya . . . . Hujan semakin deras , dan sekarang aku ingin melupakan semua walaupun sejenak . Namun ada yang ganjal aku rasa . . Ada yang kurang pas dan mencoba keluar mengingatkanku . Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranku . . . Namun aku melupakan sesuatu . . . Iyah aku mengingatnya sekarang , aku melupakannya . . . Kumbang yang akan menungguku disuasana senja . Aku mengayunkan sepedaku cepat . . . . Aku memang benci senja tapi dia . . . Sedang apa dia sekarang ?. Apakah dia masih tetap menungguku ? . Ah . . . Aku tidak karuan memikirkannya , hari sudah gelap , senja mungkin sudah hilang . . . Namun dia ! . Ah . . . Aku semakin cepat , hujan masih tetap deras menuruni ruang kosong dibawahnya . Aku meletakan sepedaku ditempat biasa , masih seperti dulu . . . Senja memang sudah hilang ! . Hari sudah gelap hujan dan malam datang menghapus senyuman senja . Aku melihat kumbang dari belakang dia bertahan disana , diujung dermaga mamandang langit malam yang tertutup hujan . Aku mendekatinya . . . . Dia masih menungguku , aku ucapkan dalam hati . Kepalanya tertunduk . . . Mungkin dia menyesali apa dia perbuat sekarang . Aku berdiri dibelakangnya tepat . . . Dia tidak sadar kedatanganku .
" Sampai kapan kamu akan menungguku ? " . Dia menengok kebelakang menatapku dari bawah . . . . Namun aku tidak menatapnya . Mataku jauh memandang semua didepanku .
" Kamu masih suka senja kan ? " . Dia berdiri dan sekarang dia didepanku , menatapku , menungguku menjawab pertannyaan bodoh itu lagi .
" Mau sampai kapan kamu disini ? " . Sekarang aku menatapnya .
" Sampai kamu datang " . Dia masih tetap menatapku . . . Bahkan dia lebih dekap .
" Kamu itu bodoh , jika aku tidak datang sekarang , apakah kamu masih tetap menungguku disini ? " .
Aku meneteskan air mataku . . . Hujan masih mengguyur dan tubuh kami sama_sama basah kuyup . Rambutku dan rambutnya sudah berantakan basah tidak karuan .
" Kamu datang sekarang " . Dia menelan ludah . . . Seperti ada yang dia tahan didalam .
" Kamu masih suka senja kan ? " . Dia bertanya hal bodoh itu lagi .
" Kenapa kamu lakukan ini kepadaku ? " . Aku meteskan air mataku lagi dan hujan menghapusnya bertahap .
" Karena aku sayang kamu " . Dia memelukku segera , kencang dan hangat .
" Aku benci senja " . Aku melepaskan pelukannya paksa . . . Dan aku lepas . Aku berlari kencang , jauh darinya dan menghilang dari hadapannya . Dia membiarkan aku pergi . . . Tidak ada kata_kata yang dia ucapkan .
" Aku sayang kamu senja . . . Aku sayang " . Teriaknya kencang , aku tidak tahu arti yang sebenarnya . Yang aku tahu aku mendengar itu . Aku tetap tidak peduli . . .
Aku menaiki sepedaku dan menghilang dari tatapan tempat ini .
Hari pun berlalu hingga aku lupa berapa lama aku tidak melihat senyum senja , aku juga lupa apa saja warna yang diberikan Tuhan untuk senja . Kumbang ! . Tidak ada teriakan lagi darinya . . . Tidak ada senyumnya yang klasik dan tidak ada panggilan darinya lagi . Aku menjauhinya dia mengerti . . . Tidak ada sapaan hangat ketika bertemu , hanya saling melihat dan mata mata kita bertemu tapi mulut hanya diam membeku . . . Sekarang dia punya kesibukan baru bersama teman_temannya , ketawa bareng bersama mereka setiap hari . . Hingga dia terlihat begitu bahagia disana . . . Dan aku , aku tidak tahu apa yang aku rasakan tapi aku merindukan hari yang dulu .
Aku tidak tahu , tidak ada jalan yang aku pilih . . . Aku hanya berjalan pada yang seharusnya dan Mungkin seperti kemarin yang lalu , hari ini ataupun kepada hari yang tidak akan pernah aku tanyakan lagi . . . Aku masih berperan utama dalam kisah yang masih ku sembunyikan , tapi aku sekarang tidak seperti senja yang ku lihat kemarin yang selalu tenang dan damai sedangkan aku yang kini . . . Penuh amarah yang setiap saat ingin aku tuangkan , tidak peduli itu dimana dan kepada siapa . Semua sudah berubah , akan tetap seperti ini . . . Aku yang acuh , tidak peduli bahkan lebih parah . Ayah . . . Ada belas kasihan yang dia tampilkan disana , aku tidak tahu apa yang ada dipikiran ayah yang jelas ayah ingin aku tersenyum seperti dulu . Hingga suatu malam , aku yang habis ke belakang berhenti didepan pintu ruang kerja ayah yang membuka sedikit disana . . . Ayah sedang berbicara diponsel dengan atasan ayah .
" Selamat malam . . . Ada apa pak ? Malam_malam begini menghubungi saya . . . Ada yang bisa saya bantu ? " . Suara dari seberang ponsel .
" Malam pak . . . Maaf pak saya mengganggu istirahat bapak . . . Ehhh . . . Begini pak saya ada keperluan sedikit dan saya harap bapak bisa mengerti " . Bicara ayah ragu .
" Oh tidak apa_apa pak , emang ada keperluan apa pak ? " . Suara itu sedikit penasaran .
" Begini pak . . . Saya ingin turun dari jabatan saya sekarang " . Ayah mencoba tegar tapi ada rasa takut ssdikit disana .
" Apa ? Tidak_tidak . . Pekerjaan bapak bagus , bapak pantas saya tempatkan disana " . Suara itu sedikit menghentak , terkejut dan bingung aku rasa disana .
" Tapi pak . . . " . Ayah belum selesai berbicara tapi sudah dipotong .
" Tidak pak , kenapa tiba_tiba begini ? Pembayarannya kurang banyak saya akan tambahkan pak " .
" Maaf pak bukan masalah itu . . . Tapi mohon saya harap bapak bisa mengerti aku tidak mau anak saya menjadi begini " . Ayah menggigit bibir atasnya , matanya mulai berkaca_kaca .
" Emang anak bapak kenapa ? " . Suara itu menjadi lentur turun perlahan .
" Maaf pak saya tidak bisa menjelaskan . . . Tapi saya mohon ini menyangkut anak saya , saya ingin dikembalikan ditempat saya seperti dulu " . Ayah mencoba kuat dan menahan air matanya disana .
" Tapi pak . . . " . Belum selesai berbicara ayah langsung memotong .
" Pak saya mohon . . . Saya sayang sama anak saya " . Suara ayah sedikit tegas . . . Ada keheningan , mungkin disana sedang berpikir tentang keputusan ayah .
" Okeh akan saya pikirkan lagi " . Suara itu pelan . . . Dan sedikit kecewa .
" Terimakasih pak . . . Sekali lagi maaf jika saya sudah mengganggu istirahat bapak " .
" Tidak apa_apa pak , tapi kalau bapak ingin mengurungkan niat bapak besok hubungi saya " . Suara itu masih ingin menahan bapak dan berharap .
" Iyah pak . . . Terimakasih selamat malam " . Bapak sedikit tersenyum . . . Lega mungkin rasanya .
" Malam " Suara itu mengakhiri pembicaraan sebelum menutup ponselnya .
Tut . . . Tut . . . Tut bunyi ponsel terakhir yang dipegang ayah . . . Ayah menghela nafas sedikit lega tapi dimatanya ada sedikit penyesalan . Ayah meletakan ponselnya dimeja kerjanya . . . Tangan kanannya memegang kepalanya . . . Seperti banyak pikiran disetiap sudutnya . Aku tahu ayah melakukan ini . . . Iyah ! . Hanya untuk aku berubah menjadi seperti dulu .
Aku membuka pintu perlahan dan masuk . . . Berdiri didepan ayah . Ayah melihatku . . . Ayah tertahan dikursinya , hanya memandangiku tanpa arti . . . Terkejut mungkin atas kemunculanku . Aku meneteskan air mataku jatuh perlahan . . . Tatapan ayah menjadi teduh . . . Ayah mengangguk dan mengerti .
" Kenapa ayah melakukan ini ? " . Ayah meneteskan air matanya . . . Kita sama_sama menangis .
" Ini mimpi ayah . . Ini yang ayah inginkan sejak dulu , ayah tidak susah khawatirkan aku , aku baik_baik saja . . . Aku sayang ayah " . Ayah berdiri . . . Dan melangkah memelukku .
" Maafkan ayah senja . . . Maafkan ayah ! " . Ayah memelukku erat .
Semua bayangan itu berubah menghilang , entah kemana ! . Yang jelas aku merindukan hal ini .
Ayah mengecup keningku , mengusap air mataku . . . Dan tersenyum seperti dulu . Aku juga ikut tersenyum bahkan lebih dari sebuah senyuman bahagia .
" Ayah sayang kamu " . Ayah tersenyum lagi .
" Aku juga sayang ayah " . Aku juga tersenyum lagi mengikuti ayah .
" Masih suka senja kan ? Tidak membencinya ? " . Ayah bertanya hal bodoh itu lagi , aku mengangguk dan menahan senyumku dari balik bibirku yang ku rapatkan .
" Besok maukan temeni ayah melihat senja ? " . Aku terdiam , berpikir apa yang akan aku jawab .
" Mau " . Aku jawab dengan pasti . Kita tertawa lagi , tersenyum lagi dan suasanya menjadi hangat kembali seperti dulu bahkan lebih hangat . Besok aku akan melihat senja bersama ayah . . . Mengingat setiap detik yang dititihkan Tuhan untukku bahagia , seperti senja . . . Yang meninggalkan biru lalu menuangkan warna merah cerah disetiap sudut senyumanku karena dihidup ini ada beberapa hal yang tidak aku mengerti . . . Seperti senyuman senja , aku tidak berlalu dalam takdir . . . Tetapi jika aku berjalan pada yang tidak seharusnya , tidak mungkin sekarang aku masih merindukan senyuman senja . . . Aku akan datang lagi melihat senyuman senja .
Minggu, 31 Januari 2016
Senja
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar